Jumat, 25 Juni 1999

LOVE UNDER THE MISTLETOE CHAPTER 4


CHAPTER IV

THE OTHER ROSE


by Tuktuk



Aku masih berdiri di depan kamar kak Riko. Masih penasaran dan masih tak percaya. Aku tertegun dan sejurus kemudian langsung mundur selangkah dari pintu kamar. Hatiku gusar. Ada perasaan yang tak terbantahkan, rasa cemburu. Iya, cemburu. 

“Ngapain?” suara kak Wildan tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
“A…Aku…” hampir-hampir tak bersuara ku karena terkejut mendengar teguran kak Wildan.
“Sudah, ga baek nguping…Udah makan malem?”
“Belum…” 
“Yok! Ke Kantin Hasanah…”

Aku mengangguk. Perlahan aku meninggalkan ruang tengah. Meninggalkan kost. Berjalan bersama kak Wildan. Apa kak Wildan sudah sedari tadi melihatku ya? Apa ia tau aku diam-diam memperhatikan kak Riko? Arghh, makin runyam saja. Stay cool dulu saja Danny! 

“Dan, kamu mau makan apa?”
“Em.. Nasi Goreng saja kak…”
“Ealah, Nasi Ayam Bakar saja, skalian sama sayurnya…”
“Ga pa pa kak… Lagi pengen makan itu”

Kak Wildan segera menuliskan pesananku dan memberikannya ke pelayan di kantin itu. Aku masih memikirkan hal-hal tadi. Kak Wildan yang memergoki ku… Kak Riko dengan Laura di kamar… Ah, bodohnya Danny! Kenapa kau harus terjebak dengan situasi seperti ini? Dalam sepekan, UTS segera dimulai. Fokus saja ke UTS, Dan!

“Di kamar Riko tadi ada siapa?”
“La..Laura…”
“Ohh, si Laura…”
“Kakak kenal?”
“Ga terlalu sih, Cuma Laura anaknya asik… mudah akrab sama orang… Tumben dia baru nongol sekarang, biasanya hampir setiap hari main ke kost..”
“Hah? Setiap hari???”
“Iya, setiap hari…”
“Pake acara kunci kamar?”
“Lah, emang kenapa Dan?”

Aku tercekat. Apa aku yang terlalu lugu? Atau aku sedang gundah karena kak Riko adalah orang yang aku sukai saat ini? 

“Sudah, habiskan makan malam mu… Diluar mendung…. Takutnya hujan lagi…”
“Aku ga takut kehujanan sekarang.”
“Oh ya? Ga kayak kemarin?”
“Iya, kemarin main hujan sama kak Riko soalnya…”

Kak Wildan mengernyitkan dahinya. Ia nampak keheranan.

“Sama… sama Riko? Main hujan?”
“Iya kak… emang kenapa?”
“Aneh. Ga biasanya tuh monyet… Kamu hutang ke aku Dan!“
“Hutang apa? Perasaan ga pernah utang sama kamu deh kak..”
“Hutang main hujan sama aku! Riko aja pernah, masa aku nggak?”

Aku tergelak mendengarnya. Kenapa kata-kata seperti itu bisa terlontar dari kak Wildan? Aku hanya tersenyum tipis. 

“Ogah….” Ledekku
“Heh, pokoknya utang!”

Aku menengok keluar. Langit memang sudah lebih gelap, angin dengan kencangnya berhembus menerobos lamunanku. Dengan cepat kulahap makan malamku.

“Kakak yang bayar ya, Dan”
“Loh, ga usah kak… Aku bayar sendiri…”
“Halahhh, ga usah… itung-itung bayar jasa kopi hariannya…”
Aku tertawa kecil.
“Tunggu sebentar ya, jangan langsung pulang…”
“Nanti hujan?”
“Bagus dong…Haaha”

Jujur, kak Wildan jika dipandang lebih dekat tampak jauh lebih menarik. Lengan nya yang kokoh dan terpahat karena sering fitness, dadanya yang bidang menyembul dari kaos ketatnya. Kulit cokelatnya, membuat kata-kata seksi pantas ia sandang. Hah, aku menghembuskan nafas. Kupandang dari luar pintu kantin, menunggu kak Wildan yang masih berurusan dengan kasir. 

“Wah, sudah rintik-rintik..” tegur kak Wildan.
“Iya makanya harus buruan….”
“Nanti, tanggung… Tunggu sampai agak deras…”
Ini kak Wildan kayaknya maksa amat untuk main hujan-hujanan? 
“Nah… Sekarang!” 

Aku tersentak. Tangan kak Wildan meraih tanganku dan langsung dibawa berlari. Aku terkejut, hujan yang mulai deras mengguyur tubuhku. Rasanya seperti disiram air berember-ember. Kak Wildan tertawa. 
“Ih, masih takut hujan itu namanya!”teriak kak Wildan
“Siapa juga yang maksa main-main hujan gini!” balasku.
“Ya udah sini!”kak Wildan setengah membungkukkan badannya.
“Naik?” 
“Iya sini aku gendong… Naik dipunggung! Danny emangnya seberat apa sih…”
“Sialan!” jawabku.

Aku memeluk erat tubuh kak Wildan dari belakang. Punggung kak Wildan yang hangat, lehernya yang kokoh, semuanya. Kak Wildan berjalan agak cepat. Ah… Andai ini kak Riko batinku. Andai orang yang kupeluk sekarang kak Riko….
Walaupun kantin Hasanah dan kost kami tidak jauh, perjalanan tadi terasa sehari semalam. 
“Nyet! Bukain nyet!” teriak kak Wildan dari depan kost.

Dengan sedikit tergopoh-gopoh kak Riko membukakan pintu. 

“Kalian darimana? Gue nyariin lo pada… Kamu ikut dia Dan?”
“Aku mengangguk sambil menggigil…”
“Lo gimana sih nyet! Itu si Danny diajak basah-basahan! Kalo dia sakit gimana?” ujar kak Riko.
“Halah udah diem, sana masakin teh panas kek… berisik, lo juga kemarenan main hujan kan sama dia?”
Kak Riko terdiam. Ia menoleh ke arahku, melihatku memeluk kedua lenganku didada. 
“Dan, mandi gih… Aku buatin cokelat panas lagi…”

Aku mengangguk, perlahan berjalan meninggalkan mereka. Samar-samar masih kudengar percakapan mereka.
“Laura mana?” ujar kak Wildan.
“Udah pulang pas tau diluar mendung…Gue cari lo sama Danny ga ada… “
“Oh, kirain nginep…”

Ku coba untuk menghangatkan diri ini setelah mandi. Kak Wildan bergantian menggunakan kamar mandi, aku masih berbalut handuk tebal. Tok..Tok…
“Ya kak?”
“Dan, ini coklatnya…” jawab kak Riko.
“Makasih kak… maaf ngerepotin…”
“Nggak kok, itu Cuma buat kamu ya… si monyet itu biarin ga usah..”
Aku tertawa. 
“Laura mana kak?”
“Laura pulang tadi. Eh, dia nitip salam buat kamu..”

Aku tersenyum.

“Istirahat ya… Nanti aku yang hajar si Wildan kalo sampe kamu sakit…”
“Hahaha… Ini juga aku yang salah kak…mau aja diajakin hujan-hujanan”
“Ya udah, tidur ya…”
“Ok”

Klek. Ku kunci pintu kamar. God! I love him so much! His smile, his eyes, his chocolate … Ku seruput gelas cokelat itu. Ku nikmati tiap tegukannya. Berharap ada keajaiban daun mistletoe antara aku dan Kak Riko, keajaiban yang mempersatukan kami. Bodoh… Apa bisa itu terjadi? Apa sanggup aku berterus terang?

Tok.. Tok… Ku dengar suara pintu diketuk sekali lagi. Ah! Kak Riko semoga ia yang berdiri didepan kamarku!

“Belum tidur?” ternyata kak Wildan yang mengetuk. Tubuh atletisnya hanya berbalut handuk di bagian pinggang ke bawah.
“Belum kak…”
“Hehe, maaf ya udah nyusahin kamu…”
“Nggak kok kak…Istirahat saja kak, nanti sama-sama sakit…”
“Iya, btw… Makasih ya, Dan… Aku seneng buat yang tadi…”
“Yang tadi?”
“Iya… Yang hujan-hujanan tadi…”

Aku tersenyum. Ku tutup pintu kamar. Andai yang mengatakan itu kak Riko… Andai yang kupeluk tadi kak Riko…. Andai… 

“Cinta itu harusnya terang. Cinta itu harusnya hangat. Andai cinta ini memilih orang yang salah, lantas kenapa semua terasa begitu terang, semua terasa begitu hangat? Mengapa dia yang dipilih cinta tak mampu merasakan hal yang sama?”


to be continued... 


LOVE UNDER THE MISTLETOE CHAPTER 3


CHAPTER III 

The Disturbing News


by Tuktuk


"Tuhan…

Ada satu nama yang menggaung di otakku, ada satu wajah yang menutupi penglihatanku, ada satu suara yang sayup-sayup selalu kudengar…
Rasa yang ku tepis dan ku abaikan
Rasa yang setiap hari selalu bertambah dan tidak pernah berkurang
Berharap aku bisa memiliki daun mistletoe merayap tumbuh diantara hari-hari ini…
Hingga bila saatnya tiba, izinkan daun mistletoe itu memayungi aku dan dia"



Kebiasaanku menulis buku harian sudah ku lakukan sejak awal masuk SMA. Sebutlah itu kuno, tapi bagiku ada kepuasan saat aku bisa membaca lagi apa yang pernah aku tuang di buku harian itu. Lebih suka seperti itu dibanding menjadi selebriti blog, aku tak percaya diri untuk itu. 


Jam dinding kamar ku beranjak menuju pukul 7 pagi. Ku tengok keluar jendela. Tidak, hari ini cerah. Flashback ke dua hari yang lalu, membuatku tersenyum sendiri. Tidak pernah aku senekat itu untuk ikut membasahi diriku diderasnya hujan. Tidak pernah. Hanya ia, pria bodoh yang membuatku tersenyum kecil saat mengingatnya, pria pemalas yang setiap pagi merengek untuk dibuatkan kopi, pria itu yang membuat mataku berkunang saat harus bertemu pandang dengannya. Riko.


Aku melompat kecil dari kasurku, mengintip sedikit dari pintu kamarku yang berseberangan dengan kamar Kak Riko. Apakah dia sudah mandi? Apakah dia sedang mandi? Aku hanya berharap bisa berpapasan kembali dengannya, saat ia sedang atau sesudah mandi! Arrrghhh…


Pintu kamarku ku buka sedikit, mataku mengintip ke arah kamar mandi yang ternyata sunyi. Ku alihkan pandangan ke kamar kak Riko. Tak ada suara. Kemana tuh orang? Sudah pergi? Tak mungkin. Ku buka pintu kamar sedikit lebih lebar dan mengulurkan kepala ku keluar. Ku lirik ke arah kamar kak Wildan yang tentu saja masih terkunci rapat dan mungkin ia masih tidur seperti biasa. Ku tolehkan ke samping, ku lihat ke arah ruang tamu. Krek, gagang pintu depan diputar dari luar. 
Pintu terbuka dan voila! Kak Riko! Kali ini ia nampak berbeda, ia berkeringat. Peluh membasahi kanan dan kiri pelipisnya, baju kaosnya ketat dan nampak sedikit basah dibagian bawah leher dan dada. Jujur, dia jauh lebih seksi saat begini dibandingkan saat setelah mandi. 



“Danny, sudah mandi?” sapa nya tiba-tiba sudah berada didepan pintu kamarku. Tepat didepan muka ku. 
“Be…Belum, ini baru mau mandi? Kakak darimana?”
“Lari pagi, seminggu kemarin kan hujan. Kamu suka lari pagi?”
“Suka sih…” jawabku enteng
“Kapan-kapan kita lari bareng ya… Sana mandi!”
“Justru kamu yang mandi kak, udah ‘harum’ badanmu” ledekku.
“Arrghh…. Sana buruan! Kakak masuk siang juga, ini mau istirahat juga”



Aku berhadapan dengan kak Riko yang berpeluh. Harum tubuh Kak Riko menguasai saraf penciumanku. Bau kak Riko. Bau yang membuatku semakin ingin memeluknya. 


“Ini, handuk kecil… lap dulu keringetmu…” ujarku.
“Di pijit sekalian ga?”
“Manja! Udah ah mau mandi” balasku.
“Bentar…itu buku apa?” tunjuknya.
“Itu rahasiaaaaa! Don’t touch!!!!!!!!!!!!” Ujarku langsung spontan memeluk buku harian itu.
“Kalo rahasia ya jangan disampul mencolok gitu… motif2nya bagus amat nunjukkin kayak itu bukan buku biasa…
Buku harian ya?”
Aku mengangguk.
“Kayak anak kecil aja…” ujarnya melengos.



Aku dongkol.
“Oke, no coffee for today” jawabku sambil meletakkan buku itu ke laci meja lalu menguncinya. 
“Jiahhhh ngambek dia! Jangan dek! Plisssss, you killed me” ia merengek.
“Ogah, pokoknya ogahhh!” jawabku sambil berlalu ke kamar mandi.



Dari dalam kamar mandi ku dengar ia berteriak memohon untuk dibuatkan kopi. Aku tersenyum saja. Hihihi, I will make it for you, you don’t have to ask Kak…


***


Hari ini tidak ada kuliah. Setelah mandi, aku seperti biasa membuatkan kopi untuk kak Riko dan kak Wildan. Kak Riko sudah terburu-buru berangkat setelah menghabiskan gelas kopinya. Sedangkan kak Wildan belum juga keluar dari kamarnya.


Aku duduk di kursi makan. Terlalu malas rasanya untuk menonton TV atau DVD. Tiba-tiba… Krek… Kak Wildan keluar dari kamarnya. Paras kak Wildan bagi ku cukup tampan. Meskipun untuk saat ini, hanya ada wajah Kak Riko yang memenuhi pundi-pundi hati ini.


“Riko udah pergi ya Dan?”
“Iya kak…”
“Hah, tumben dia rajin…”
“Kakak jarang kuliah ya? Perasaan libur terus”
“Aku cuma skripsi kok Dan, dosen ku baik…Jadi pas mengajukan judul langsung diterima… Tulis deh…” ujarnya sambil menyeruput gelas kopinya.
“Hihi, kasian kak Riko…pasti begadang lagi dia”
“Halah, orang itu mah… Begadang juga bukan buat belajar dia… Simpenannya banyak”
“Simpenan? Maksudnya” tanyaku penasaran.
“Dia itu playboy Danny. Pacarnya banyak. Not a role model for you Dek..” jawab kak Wildan polos.
“Hahaha… tapi wajar… Kak Riko keren sih….” Tiba-tiba saja mulutku melontarkan jawaban spontan. Aku terdiam. Ku lihat kak Wildan berhenti menyeruput gelas kopinya. 
“Keren? Masa sih?” 
“Hehe, ya mungkin bagi mereka kak Riko itu keren…” jawabku ngeles.
“Riko itu playboy, kadang dia kesusahan sendiri waktu salah satu cewenya ngelabrak ke kost ini.Aku yang sibuk ngebantu jelasin ini itu supaya tuh cewe ga main sinetron sambil teriak-teriak disini.”
Aku tersenyum.
“Pacarnya banyak. Tipikal heartbreaker, tapi yang ini versi cerobohnya. Sampe dibawa ke kamar segala pacar-pacarnya itu.”
“Hah?!” Aku setengah melotot.
“Haha, kamu masih kecil sih… Nanti kamu ngerti sendiri kok…One thing, he’s a sure bastard”



Aku terbelalak. Sebegitu kejam kah kak Riko? Sebegitu liar kah kak Riko? Kenapa selama hampir tiga minggu ini ia terlihat sempurna? Kenapa ia tak pernah membawa gadis masuk ke kamarnya? Aku yang belum pernah melakukan adegan dewasa itu hanya bingung. Jujur, aku masih virgin. Berciuman pun aku belum pernah. I only had a few crush. Aku belum berani untuk melakukan itu. Walau aku mengetahui bahwa orientasi seksual ku berbeda dengan yang lain. Tetapi aku masih belum berani. 


“Danny?”
“Ya… kak?”
“Kok diem?”
“Ga papa… ga habis pikir aja…”
“Udahlah, take it easy…Kamu kan masih baru disini… Nanti kamu bisa kenal watak kita satu sama lain… Eh… kamu suka nonton film?”
“Suka!” jawabku spontan.
“Kapan-kapan kita bertiga nonton yuk, aku udah lama ga nonton ke bioskop”
“Boleh kak! Aku juga, semenjak disini belum pernah”
“Suka film apa?”
“Komedi romantis atau fiksi”
“Wah, aku suka thriller haha…. Fiksi yang gimana?”
“Yang legenda…misal tentang witch, atau tentang legenda-legenda apa saja”
“Kamu percaya legenda?”
“Sedikit. Hehe, ada beberapa sih”
“Misalnya?”
“Mistletoe” jawabku polos.
“Ohh, yang kalo ciuman dibawah mistletoe kita bisa dapet cinta abadi gitu?”



Aku mengangguk.


“Kamu lucu.” Ujarnya. 


Ah, andai yang bilang kak Riko… Tapi mana mungkin dia mau bilang gitu. Lihat aku punya buku harian saja ia tertawa…


***


Ucapan kak Wildan tadi pagi masih membekas di kepala ku. Apa benar kak Riko seperti itu? Aghhh… aku tak mau ambil pusing. Toh kalaupun kak Riko straight, what can I expect from him? Dia gay atau biseks pun aku mungkin ga berani ‘nyosor’ duluan. 


Dari luar kudengar langkah kaki setengah berlari datang. Itu pasti kak Riko. Ya! Benar saja… ia nampak buru-buru, meletakkan HP di meja dan berlari ke kamar lalu masuk ke kamar mandi. Handphone kak Riko tergeletak di atas meja. Aku penasaran. 


Ku langkahkan kaki ku untuk mendekati HP itu. Ku perhatikan sekitar, kak Riko tengah mandi di dalam. Kuraih HP kak Riko lalu ku buka isi HP itu.


SMS dari Riska “SAYANG, KANGEN…”. SMS dari RATIH “HUN? TUMBEN GA NGABARIN HARI INI?”. SMS dari Laura “OKE, AKU BERANGKAT KE KOST MU YA”. Kaki ku gemetar. Ternyata yang kudengar dari kak Wildan bukan isapan jempol. He’s a player! Oh my! 


Aku lemas. Oke, alasan kak Riko buru-buru jelas sudah. He has a date! Tak lagi ku hiraukan isi SMS yang masih menumpuk itu. Ku langkahkan kaki ke kamar. Ku dengarkan lantunan lagu-lagu RnB kesukaanku. 


Setengah jam kemudian pintu depan diketuk. Aku membukakkan pintu, seorang wanita berambut se bahu berdiri dihadapanku. Cantik. Dia pasti Laura. Wanita yang memberikan pesan singkat yang sempat aku baca tadi. 


“Malem, Riko ada?” 
“Ada… masuk… Ini siapa ya?” tanyaku.
“Laura”
“Oke, silakan Laura….”



Laura melangkah gontai kedalam rumah. Ia berjalan mengarah ke kamar kak Riko. Ia seperti sudah menguasai seluk beluk rumah ini. Laura memegang gagang pintu kamar kak Riko dan memutarnya. Tanpa mengetuk! Tanpa memanggil! Laura masuk nyelonong ke kamar kak Riko.


Aku tertegun. Kak Riko ada di dalam. Aku penasaran. Aku berjalan menghampiri kamar kak Riko. Berdiri didepan pintu itu. Sedikit mendekatkan telingaku ke pintu. KLEK. Pintu dikunci dari dalam. 


Mereka mau ngapaain??!!!


***



to be continued...

LOVE UNDER THE MISTLETOE CHAPTER 2

CHAPTER II

The Rain


by Tuktuk 




Tanpa terasa, seminggu sudah aku lewati sebagai mahasiswa baru jurusan Ilmu Komunikasi. Life has been so good. Bertemu dengan banyak teman-teman, mengikuti kegiatan kemahasiswaan diluar jam kuliah yang memberikan warna baru yang jauh berbeda saat aku masih tinggal bersama Ayah dan Ibu, termasuk berbagi isi rumah dengan kedua ‘kakak’ baru ku itu. 


Ku tutup laptopku, kemudian beranjak perlahan meraih handuk dan bergegas mandi. Ku perhatikan keluar jendela, seminggu ini hujan terus. Langit diluar sedikit mendung dan hari ini kuliah perdana dari dosen Pengantar Komunikasi yang minggu lalu kosong, i can’t miss it! Masalahnya, kamar mandi di rumah ini hanya ada 1, jadi kami bertiga harus berbagi. Kak Wildan biasanya kuliah siang, jadi yang suka rebutan pagi antara aku dan... Kak Riko! Entah kenapa kalau mengingat ia, hatiku bersemangat. Kak Riko memang berbeda dengan kak Wildan yang sedikit cool dan berusaha berwibawa, kak Riko itu spontan dan apa adanya, belum lagi mukanya yang sedang tersenyum atau tertawa, God...:)


Ahh, apa yang baru saja aku pikirkan? Tidak... tidak... Dia roommates ku dan aku tak boleh memiliki perasaan apapun untuk itu. No excuses. 


Ku raih gagang pintu kamar mandi tersebut... Kreek...Dan sebuah teriakan menyambut dari dalam kamar mandi.


“WOI! Untung gw udah kelar!!!” teriak kak Riko.


Aku bengong. Kak Riko berjalan setengah telanjang dengan dibalut handuk keluar dari kamar mandi, I swear this is hotter than any striptease show~! Dadanya putih padat berisi dengan kedua puting susu kemerahmudaan menghiasi di kedua sisinya, bahu dan lengan yang padat dan kokoh... Arrghhhhh! Pingin peluk! 


“Dan? Danny?” ujarnya seraya membuyarkan lamunanku. 
“I... Iya kak?” jawabku terbata.
“Lain kali, kalo mau masuk ketok dulu...”
“Yee! Salah siapa yang ga ngunci pintunya! Masa nyalahin Aku?” jawabku sewot.
“Aah, pokoknya salah kamu, Dek! Hukumannya buatin Kakak kopi ya” 
“Enak aja! Nyalahin aku... Ogahh!” ujarku sambil masuk ke kamar mandi.



Tuhan! Ada sesuatu yang tertinggal dikepala, sesuatu yang menancap di angan, bayangan kak Riko tadi masih jelas and He is so damn HOT! Arhhhh, Byuurrr aku mengguyur kepalaku dengan air berharap apa yang kulihat tadi tidak terus menerus bersarang diotakku.


Samar-samar dari luar kamar mandi aku dengan suara kak Wildan, si pemalas itu sudah bangun rupanya. Daripada ia mengetuk pintu duluan, lebih baik aku yang buru-buru keluar. Tetapi, baru selangkah berjalan meninggalkan kamar mandi suara kak Riko memanggil. 


“Danny! Ayolaaaaah, ga ada kopi kakak ga semangat mau bimbingan skripsinya...”
“Manja nya! Minta sama kak Wildan aja”
“Mana bisa si monyet itu nyeduh kopi, orang masak mie aja dia rela beli di warung”
“Heh sialan lu Ko, udah Danny, coba diturutin aja itu maunya si Riko... lagi manja dia hari ini...Daripada kita dicemberutin seharian?”



Aku tersenyum. Jujur aku senang membuatkan kopi untuk kedua orang ini. Setiap pagi. Ya, setiap pagi. Berawal dari hari pertama aku ngekost dan membuatkan kedua orang ini kopi. Aku terbiasa membuatkan segelas kopi untuk Ayah sebelum berangkat kerja. Kata Ayah, kopi buatanku pas tidak terlalu pahit juga manis, kopi hitam yang pas. Jadi sudah seminggu ini aku rutin membuatkan kopi untuk mereka, entah sampai kapan.


Sruuuuttt... Kedua kakakku itu seperti berlomba menyeruput kopi. Aku jadi geli melihatnya. Roman muka kak Riko terlihat begitu menawan. Rambutnya yang dispiky rapi, mukanya yang bersih dan putih, dan tanpa kusadari, aku sedikit berdebar kali ini...


“Danny, kita bareng yok ke kampusnya...” ajak kak Riko.
“Iya, kebetulan aku udah mau berangkat, yuk...”
“Gue sendirian dong di kost?” sahut kak Wildan.
“Heh, nyet... Elu udh tua kaga perlu diurusin lagi, doain judul skripsi gue diterima yak!” jawab kak Riko.
“Najis lu, Ko...Gw doain dosen pembimbing lu lagi ga ditempat!”
“Ahh udah nyet, males gw pagi-pagi berantem sama elu... Malu sama Danny, udh gede kayak anak kecil”
“Asuuuuu!!!!” jawab kak Wildan sambil melempar sebelah sendalnya.



Kak Riko keluar sambil tertawa kecil, aku tertawa sambil menggelengkan kepalaku. Dasar...


Tik... Tik.. Tik... Kepala ku kuangkat ke kelangit. Hujan! 
“Wah, mau hujan nih... Kita mesti lari-lari kak”
“Hahaha, santai aja Danny... Jalan kaki saja kayak biasanya...Ini masih gerimis kecil..”



Aku bermuka masam. Aku malas saat harus berbasah-basah karena hujan, terlebih aku tidak punya payung dan Kak Riko menyadari itu.


“Lha, kok cemberut? Kamu mau naik angkot? Deket gini?”
“Hujan nya itu kak. Aku malas basah-basah, walau cuma gerimis kecil...”
“Hush, hujan itu berkah... Hujan itu hadiah... Kita harusnya seneng dong dikasih hadiah... Manusia itu selalu begitu, saat panas kita memohon hujan. Begitu sudah ada hujan kita memohon panas... Tidak adil.”



Aku terpana. Kak Riko memang tampan saat sedang tak serius, tapi ketika ia berbicara seperti seorang pria dewasa, ia tidak lagi tampan. Tapi lebih dari itu. Dan terus saja setiap kali aku memandangnya, seluruh sel didalam tubuh ini memuji dan mengaguminya. Bodoh! 


“Eh, kamu jam berapa pulangnya?”
“Jam 1 kayaknya, kenapa kak?”
“Ya udah, bareng aja... Aku sekalian cari buku di perpus... Sms kk ya kalo udah kelar kuliahmu”
“Oke!”
Tuhan, Aku memang senang bisa berangkat bersama kak Riko pagi ini. Tetapi kenapa mesti hujan ? 



***
Drrttt... Drrrttt.. HP ku bergetar. Kulihat isi SMS nya, dari kak Riko.



“DAN, UDH KELAR? KK TUNGGU DIPERPUS YA”
“IYA KAK, UDAH. OKE AKU KESANA DILANTAI 1 YA”



Langit masih mendung, bahkan lebih gelap dari tadi pagi. Hujan masih akan turun dan lebih deras nampaknya. Dari kejauhan aku melihat sosok kak Riko berjalan ke arahku. Mukanya sedikit lebih lesu dari tadi pagi. 


“Kok lesu kak?”
“Judulku belum diterima, kata dosenku cari judul lain dulu yang lebih menantang katanya...”
“Hihihi, faktor muka kali kak?”
“Yeeee muka ganteng gini! Eh, kayaknya mau hujan deh...”
Aku menoleh ke halaman kampus dan benar saja. Hujan perlahan turun. Deras sekali, seperti langit sedang meluapkan kemarahan, begitu deras. 
“Kamu cemberut lagi tuh!” ledek kak Riko.



Kali ini aku tak menjawab dan kak Riko menyadari hal itu.


“Kita main hujan aja yok!”
“Hah?” 
“Main hujan, sambil pulang”
“Ogahh... Hujan deres gini... dingin pula”
“Ayolaaah, biar kamu basah sekalian siapa tau ga sebel lagi sama si hujan”
“Ogaaaah...”



Kak Riko lalu melepas sweaternya, meninggalkan baju kaos tipis yang membuat lekuk tubuhnya semakin menonjol. Dengan cepat ia memasangkan sweater tebal itu ke tubuhku. 


“Ayo!!!” katanya sambil mengulurkan tangan. 


Aku terdiam. Sedikit ragu, namun akhirnya aku terima sambutan tangan itu. Kedua tangan yang besar dan kuat. Kedua tangan yang menggandengku dan mengajakku berlari dibawah derasnya hujan. Tangan yang hangat. Tangan kak Riko. Aku sudah tak peduli lagi. Hujan memang turun deras, tapi aku tidak peduli. Aku bahagia. Tidak pernah sebahagia ini.


Kami berlarian sambil terus berangkulan pada pundak satu sama lain. Tubuh kak Riko yang terasa begitu rapat, begitu dekat, hangat tubuh kak Riko. 


Begitu sampai di kost, aku menggigil. Kak Riko lalu mengambil handuknya, mengusapnya di muka ku, menggosok kepalaku lembut. 
“Bilas dulu Danny, trus tunggu di kamar”



Aku membasuh tubuhku, membersihkan dan mengeringkannya. Walau telah berganti pakaian aku terus saja mengigil. Tetapi kak Riko masih basah kuyup, ia ke dapur seperti mengerjakan sesuatu dan datang ke kamarku.


“Ini, ucapan maaf sudah ngajak kamu gila-gilaan” ujarnya sambil menyodorkan segelas cokelat panas.
Kuraih gelas itu dan menyeruput perlahan, nikmat... hangat.



“Pas ga rasanya? Panas ga?” tanya kak Riko.
“Enak kok kak...”
“Masa sih? Aku belum coba lho, sini coba sedikit”



Tangan kak Riko meraih gelas cokelat ku, kemudian ia menyeruput cokelat panas itu.
“Ini baru nikmat..Kakak mandi dulu ya, maaf untuk yang tadi...”



Aku mengangguk. Aku menatap gelas yang kupegang, menatap sisi bekas kak Riko. Sisi gelas bekas kecupan bibir kak Riko. Sisi gelas yang diminum langsung oleh kak Riko. Sisi gelas itu yang kini aku kecup. Aku ingin bersama kak Riko.


“Tuhan, maaf aku telah berprasangka buruk akan hujanmu, aku menarik kata-kataku tadi pagi Tuhan. Terima kasih telah menurunkan hujan hari ini. ^_^”


Begitu kuakhiri isi buku harian itu, aku merebahkan tubuh di kasur sambil terus saja berfikir. Apa mungkin aku telah jatuh cinta?


****



to be continued...

LOVE UNDER THE MISTLETOE CHAPTER 1

Ada legenda yang mengatakan, berciuman dibawah tanaman Mistletoe akan mengukuhkan cinta yang tulus dan abadi.

Cinta yang tak mengenal syarat dan kondisi, cinta yang seadanya cinta.
Seperti kasih Dewi Frigga untuk menghidupkan kembali Dewa Balder dibawah daun Mistletoe.



CHAPTER I 
The Root



by Tuktuk


“Kamu, ngekost disini juga?” suara pria itu sedikit mengagetkanku. “I..Iya…”. “Wah, satu kost denganku dong! Aku Riko. Jurusan Teknik Elektro, baru masuk semester 7 .” Dengan sigap aku menyambut jabatan tangan itu, “Wah, sudah mau tamat dong ya… Aku Danny, semester 1, Ilmu Komunikasi”. “Hehe Iya nih, lagi sibuk mikirin judul skripsi, Aku tau dari Pak Jaka yang punya kost-an ini. Katanya ada yang mau masuk lagi, Oh iya, kamar kamu yang pintu cokelat ya…Yang ada poster Guns n Roses didepan pintunya, itu bekas seniorku, dia udah lulus.” 



Kost Pak Jaka itu rumah dengan 3 kamar. Disekitar kampus ini, kost inilah yang paling strategis. Dekat dengan warnet, tempat fotokopi, rumah makan, dan halte busway. Pokoknya aksesibilitasnya, paling mumpuni! Kamarku sendiri menghadap 2 kamar lainnya, kamarnya Riko, dan satu lagi aku belum ketemu pemiliknya mungkin sedang diluar. Ku susun perlahan semua barang-barang yang aku butuhkan, mobil truk yang membawa semua barang-barang yang dikirim Ayah termasuk semua keperluanku menunggu diluar sembari aku mengangkat barang-barang itu ke kamar. Riko melihatku mondar-mandir, Ia lalu bangkit dan membantuku menurunkan barang-barang sambil memasukkannya ke kamar.



“Dan, ini mau ngekost apa pindah rumah ceritanya?” ujar Riko sambil tersenyum. “Hehe, tau nih Kak, Ayah sama Ibu yang bantu ngepack, semua dibawa kesini…”. “Wah, anak papi mami rupanya dia”. “Hahaha, siapa bilang? Aku anak Ayah sama Ibu!” jawabku sambil terus saja mengangkat barangku. 


Riko nampaknya keletihan setelah hampir satu jam membantuku menurunkan dan menyusun barang-barangku. Secara fisik,Riko menarik. Ups, bahaya! Dia roommate ku! Giginya rapih dan rata, rambutnya hitam lebat dan dispiky, matanya cokelat dan tubuhnya putih berisi. Tidak terlalu atletis tidak pula kurus. Jujur, I would eat him alive! Aku dan orientasi seksualku merupakan bagian hidupku yang aku sembunyikan. Aku tak berani coming out untuk mengutarakannya, aku juga tak berani terlalu menunjukkannya. Gay relationship hanya beberapa kali aku jalani, walau aku menyadari kondisiku sejak SMA, aku tetaplah Danny. Danny yang hidup dengan realita social yang belum mampu menerima orang-orang dengan orientasi seperti aku.


“Kak, capek? Kita lunch dulu yok… Aku yang traktir. Sekalian, ucapan makasih untuk bantuannya”. “Wah, Dan… Kamu salah orang, urusan makan aku jangan ditanya lho…. Bisa abis nanti jatah makan kamu, buat bayarin aku!”. “Hahaha, ga papa lah… Ga enak aku kk jadi keringetan gitu”. “Oke, kalo di daerah ini, yang paling fenomenal itu… Nasi Bakar Bu Hasanah, dijamin lidah bergoyang!” 


Riko orangnya supel sekali. Mudah sekali akrab, dan sangat ramah dengan semua orang. Sepanjang makan di kantin Bu Hasanah, banyak sekali orang yang menegurnya atau sekedar ‘say hi’. Things that I like from him, one of them is his warm personality!. “Kakak sdh lama ya dikost ini?” “Sudah, dari semester satu aku disitu, oh iya… Penghuni kost kita satu lagi Wildan, anak Hukum semester 7 juga, tapi lagi ke kampus kayaknya…”. “Dan, kamu suka olahraga?”. “Suka, kak. Kenapa?”. “Rencananya sih mau ada turnamen futsal, mau gabung?”. “Ah, kalo futsal I am suck at it kak! Kalo berenang atau badminton suka.” No! Jangan futsal, orang nonton bola saja suka ga ngerti rules nya, apalagi disuruh main, poor Danny! “Walah, kirain… Kalo gitu kapan-kapan berenang bareng lah ya… dideket kampus ada kolam renang indoor, asik juga tempatnya”. “Boleh tuh kak, kebetulan aku udh berapa minggu ga renang”. What the… Berenang bareng Riko? He’s so damn hot! Mulai pikiranku mengarah yang nggak-nggak. Arrggghhh…


“Dan! Ngelamun aja… Makan tuh habisin, gak baek disisain”. “Kenyang aku kak, tapi emang enak banget, mau gimana lagi perutku penuh”. “Nih anak gimana sih? Abisin sana! Ga baek disisain, kasian diluar sana banyak yang ga makan kamu disini malah buang-buang, tau gini sepiring aja kita pesen dibagi dua.” Mataku setengah melotot, hah! Mungkin bagi kak Riko sepiring berdua ga masalah. Tapi bagi aku? Noooo, it’s one of the sweetest moment you know! Tangan kak Riko mengambil piring makananku, ia menghabiskan separuh dari nasi bakar itu, dan tidak menyisakan sedikitpun. Pria dengan prinsip, itu yang bisa aku tangkap dari kak Riko. 


***


Begitu kami sampai di depan kost, aku bertemu dengan kak Wildan. “Nah, ini namanya Wildan! Tenang, Dan… disini urutan gantengnya Aku, kamu baru si Wildan ini”. Perawakan kak Wildan itu sawo matang, beda dengan kak Riko yang putih, badannya juga atletis sering fitness sepertinya secara muka, lumayanlah. “Ahh, sialan lu Ko! Ngerusak imej aku aja didepan anak baru…masih polos dia jangan dinodai”. “Eh, emangnya elu!” ujar kak Riko sambil mengacak-acak rambut kak Wildan. “Arrrrggghhh ni orang! Gw masih mau pergi tau!”teriak kak Wildan sambil berusaha membalas dan mengejar kak Riko yang keburu masuk rumah. Haha, lucu sekali kedua orang itu. Sepertinya aku betah disini, apalagi dengan kedua orang itu.



to be continued...