Senin, 28 Juni 1999

LOVE UNDER THE MISTLETOE CHAPTER 8


CHAPTER VIII

THE HIDDEN TRUTH


by Tuktuk


Aku tersentak saat kurasakan nafas seseorang menerpa pipi dan sebagian leherku. Perlahan aku membuka mata, ah… benar juga, aku semalam tertidur di kamar kak Riko. Ku perhatikan posisi tidurku, tubuhku benar-benar dianggap seperti bantal guling. Ya, aku didalam pelukan kak Riko! Tuhan, tidak ada lagi perasaan yang lebih bahagia selain merasakan nafas kak Riko berhembus hangat dari pipi dan leher ini. Merasakan lengannya yang begitu kokoh memeluk tubuh ini. >.<

“Hmmmhh……” terdengar suara kak Riko lirih.

Astaga! Dia sepertinya baru bangun, gimana ini? Gimana kalau kak Riko sadar ia sedang memeluk aku? Apa dia akan terkejut dan langsung berpindah posisi?
Aku langsung memejamkan mata. Berakting seolah aku masih tertidur pulas.

“Dan… Danny?” suara kak Riko terdengar pelan berbisik.

Aku tak berani menjawab. Aku masih ingin bersama kak Riko. Aku tak ingin beranjak. Tapi kurasakan tubuh kak Riko beranjak melepas rengkuhannya dan begeser sedikit kekanan sehingga kami tidak berpelukan lagi. Uhhh….

Aku masih memejamkan mata, tetapi kurasakan sentuhan jari tangan mengenai pipiku. Jari kak Riko! Astaga, aku begitu berdebar. Aku tak tau harus bagaimana, aku begitu deg degan saat jari kak Riko menyusuri batang hidungku dan berhenti di bibirku. Kurasakan jari itu menyentuh bibirku lembut, ahh… Bagaimana kalau kak Riko menciumku? Kok First Kiss ku jadinya gini sih? Harusnya romantis dong! Ahhh, kok aku sampe mikir sejauh itu? Itu cuma jari kak Riko, cuma jarinya… Calm down, Danny….

Tiba-tiba… CLICK! Kurasakan lampu blitz kamera baru saja mengenai muka ku. Aku membuka mata lebar-lebar. Kulihat kak Riko memotretku dengan HP nya.
“Ihhhh, apaan sih motret orang lagi tidur!” ujarku sewot.
“Hihihi, habis muka mu lucu…” jawabnya terkekeh.
“Sinih-sinih, hapusin! Bikin malu aja… Kalo ga aku ga mau buatin kopi lagi….” 
“Oh please, jangan ancaman yang itu dong dek… Plisss” ujarnya memohon.
“Pokoknya aku minta hapus fotoku itu…”
“Kita foto berdua aja…”
“Hah?” 
Aku melongo. Maksudnya foto berdua kak Riko? Di kasur? Hah??? Beneran?
“Berfoto berdua aja ya Dan, biar adil sama-sama kucel mukanya…”

Dan jadilah tangan kak Riko melingkar di bahuku, memelukku dari samping dan memotret kami berdua. Aku benar-benar bingung. Bingung sekaligus bahagia, takpernah terbayangkan di benakku aku dan kak Riko akan bisa sedekat ini, cihuyyyy! >.<

Krekkk… Pintu kak Riko terbuka. Kontan, kami berdua langsung menjauh satu sama lain. Kak Wildan…
“Lho, Danny? Kamu disini? Aku cari ke kamar kamu ga ada…”
“Eh… I… Iya kak…”
“Kamu nginep di kamar Riko?”

Aku tak menjawab. Aku benar-benar kikuk. What happen to you Danny? Itu hanya kak Wildan, tapi mengapa aku begitu merasa bersalah? Tidak, aku cuma suka sama kak Riko. 

“Ya elah nyet, dia bantuin gue ngerjain skripsi… Jadinya ketiduran deh… lagian pake istilah nginep, kayak beda rumah aja” jawab kak Riko.
“Nggak… bukan gitu… Ahhh… Danny nya itu….” Kak Wildan nampak bingung.
“Emang Danny nya kenapa?” jawab kak Riko.
“Dan… Danny nya sarapan dulu deh… aku udah buatin sarapan tadi… Aku yang masak sendiri, Nasi Goreng Chef Wildan!”

Aku tersenyum. 

“Makasih kak!” aku beranjak dari kasur kak Riko menuju ruang tengah. Astaga, aku ada kuliah pagi! 
“Kamu masuk pagi kan? Itu aku siapin sarapan “ ujar kak Wildan.

Aku tersenyum lebar. Ah, kak Wildan. Kenapa kamu begitu baik padaku? Tunggu, ini nasi goreng cuma satu piring? Cuma buat aku? Buat kak Riko mana? 

Aku seolah tak peduli mulai menyuap nasi goreng itu ke mulutku. Enak! Tak kusangka kak Wildan pandai juga memasak. Benar-benar pria idaman…

“Eh, nyet… Kok Cuma masak sepiring sih?” tiba-tiba kak Riko berdiri dibelakangku.
“Diem lu nyet, udh gede kayak anak kecil aja minta dibuatin” jawab kak Wildan.
“Segitunya lu sama gue…. Danny aja dikasih… Bagi dong dek?” pinta kak Riko.
“Makan aja kak, aku lagi ga laper…” 
“Ga enak Dan?” Tanya kak Wildan.
“Enak banget kakakkk! Serius, enak… Tapi aku buru-buru ini udah jam 7, aku mau ada kuliah pagi sama Dosen Komunikasi Massa…”

Kak Wildan nampak cemberut. Ia merasa begitu kurang senang saat kak Riko melahap habis nasi goreng itu. Dan aku menyadari hal itu.

“Nasi goreng kamu enak kak… Nanti kapan-kapan aku yang balas masakin special buat kamu..”
Kak Wildan tersenyum. 
“Janji?”
Aku mengangguk. Kulihat kini justru kak Riko yang bingung. Ia mungkin aneh dengan tingkah kami berdua.

“Lu berdua ngapain sih? Buat gue? Siapa yang masakin?”
Aku berlalu sambil tertawa dalam hati. Kedua orang ini begitu menarik. Begitu mempesona. Ah, Tuhan… Aku tak mungkin menyukai keduanya. Untuk saat ini, aku masih menginginkan kak Riko.

****

Selama di kampus, aku bersusah payah beronsentrasi. Saat dalam perjalanan pulang, saat melamun di kost aku tak dapat berfikir hal-hal lain. Pikiranku terus melayang membayangkan dia, kak Riko. Membayangkan senyumnya, muka lucunya, tengilnya, usilnya… Sesekali dalam bayanganku muncul sosok kak Wildan. Mengapa sosok itu muncul? Aku tak merasakan apapun selain kenyamanan saat bersamanya. Tetapi saat bersama kak Riko, ada rasa menggebu-gebu, ada rasa tenang, ada rasa hangat, ada rasa liar… Semuanya…

Ah iya, foto itu! Aku masih menyimpannya di HP. Tadi, sewaktu kak Riko di kamar mandi, aku diam-diam mengirimkan foto itu ke HPku. Aku masih memandangi foto kami berdua, tangan kak Riko begitu rapat mencengkeram bahuku sambil tersenyum. Ahhhh so sweeett!

Brrrmm… Kudengar motor kak Riko memasuki halaman kost. Ini dia!

“Kak…” ujarku.
“Ya, Dan?” jawab kak Riko.
“Gimana skripsi mu?” 
“Syukurlah, udah jalan ini…Tapi dibanding Wildan, jauh aku ketinggalan..”
“Oh, baguslah… Turut senang aku dengernya…”
“Hehe makasih” ujarnya sambil meletakan helm di atas meja.
“Anu kak… Aku boleh pinjem motornya?”

Kak Riko mengernyitkan dahi. 

“Kamu bisa?” 
“Bisa kok..”
“I… ini udah mau magrib lho? Mau kemana?”
“Ke jalan Hang Tuah…”
“Jauh amat? Mau ngapain? Disitu seram kalo malam, jalanannya sepi… Nanti kamu kenapa-kenapa?”
“Ya, jangan di doain dong… aku mau ke minimarket sama cetak foto….”
“Mesti disana?”
“Kata temen disitu yang cetakannya bagus…”
“Kakak anter ya?”
“Ga usah, aku bisa kok…”
“Kakak anter pokoknya!’
“Ga usah!” bentakku.

Aku meraih kunci motor dari meja, dan berlarian ke halaman. Maaf kak, bukannya aku tak suka… Tapi aku merasa begitu bergantung padamu. Aku ingin berusaha sendiri kak… Aku merasa tak enak jika terus-terusan merepotkanmu, apalagi kamu baru pulang… pasti capek

Aku melaju menuju jalan Hang Tuah. Jarak tempuh memakan waktu 20 menit. Itu pun sudah ngebut. Dan memang, sepanjang kanan dan kiri rumah-rumahnya berjarak berjauhan. Halaman-halaman kosong dan kebun kebun menghampar. Aku benar-benar menjauhi kota.

Langit semakin senja dan perlahan matahari mulai kembali ke peraduannya. Aku baru saja menyelesaikan belanjaan di minimarket. Ah, ini kan satu arah pikirku. Jadi aku mampir ke minimarket dulu baru ke cetak foto itu. 

Sesampainya aku di studio foto itu, aku langsung bergegas untuk mencuci foto itu.
“Kakaknya ya mas?” Tanya mbak penjaga took.
“Iya…” jawabku enteng.
“Ganteng, hehe… Mas nya juga lucu, kalian saudara ya?”
“Iya…” jawabku asal.
“Duh, titip salam dong buat si kakak…” ujar si Mbak genit.

Aku hanya tersenyum masam. Sejurus aku tolehkan pandanganku ke luar. Brrrssshhhhhhh hujan turun begitu derasnya. Hah… Hujan? Aku melihat jam tangan. Sudah pukul 7 kurang 10 menit. Darnnnn! Dan hujan turun begitu derasnya. 
Drrrtt… Tiba-tiba handphone ku bergetar. Ada 2 sms masuk.

From : K’ WILDAN :
“DEK, DISINI HUJAN… KAMU DIMANA?”

From : K’ RIKO :
“DANNY, HUJAN DERAS… MASIH DIMANA?”

Aku tersenyum membaca sms kedua orang itu. Aku ketik balasan, lalu ku kirim ke kedua orang itu.
To : K’ RIKO, K’ WILDAN
“MASIH CETAK FOTO DI STUDIO XXXX, NANTI LANGSUNG PULANG BEGITU HUJAN REDA. BTW BATREKU LOW BAT…”

Duh, sial… ini batre pake acara low bat segala… Kalo lagi saat-saat genting gimana? Hmmhhh….
Aku masih menengok keluar. Menyaksikan langit seolah menumpahkan seisi kegundahannya kepada bumi. Apakah bumi mau mendengar tangisan langit? Apakah ini bentuk kekesalan langit? Ah, pemikiranku mulai aneh-aneh saja.

Tanpa terasa, sudah hampir 2 jam aku termangu disini. Jam menunjukkan pukul 9 malam. Aku tau, pasti kak Riko dan kak Wildan cemas. Sedangkan hujan masih cukup deras meskipun tidak sederas tadi.

Aku pulang. Aku harus pulang. Ini masih hujan air, gimana kalau batu? Cuma hujan air. Aku harus berani menerobos hujan. Aku meminta plastik untuk melapisi HP dan hasil cetakan foto tadi di dalam tasku. Lalu aku bersiap menerobos hujan.

Jalanan begitu sepi, sampai-sampai tak ada kendaraan lain melintas selain aku. Perlahan aku menyusuri karena pandanganku sedikit terganggu oleh rintikan hujan yang membasahi tubuhku. Aku basah kuyup. Dan….

GLEDUK… GLEDUK… GLEDUK… Kurasakan motor ini naik turun, seolah sedang melewati bebatuan terjal. Ada apa ini? Aku tak merasa menginjak batu. Jalanan juga mulus, lantas ada apa ini? Aku menepikan motor dan kudapati bahwa motor kak Riko pecah ban! Shit.. Oh Shitttt!

Aku dalam keadaan basah kuyup dan kini harus mencari tukang tambal ban! Aaaaahhh Aku menyesal menolak tawaran kak Riko untuk diantar tadi…. Arrrgggghhh Danny bodoh! Danny bodohhh! Sekarang aku butuh kakak… Aku butuh kak Riko!!!!!

Aku mendorong motor yang kutumpangi menyusuri jalan menuju kost. Sepi, hanya bunyi jangkrik terdengar bersahutan, sesekali bunyi katak memanggil hujan terdengar meramaikan malam ini. Aku kedinginan. Aku letih. Aku butuh kak Riko.

Aku tak menemukan tukang tambal ban maupun tempat untuk berteduh, karena jarak rumah yang berjauh-jauhan. Aku benar-benar ingin menangis rasanya. Kaki ini sudah begitu letih untuk berjalan mendorong motor yang ternyata cukup berat. Aku menepikan motor dan merapatkan kedua kakiku sambil berjongkok. Aku menyandarkan keningku pada lenganku. Aku menunduk. Aku menahan rasa ingin menangis ini. Aku harus meminta tolong pada siapa ? HP ku tidak bisa dihidupkan, baterenya tidak bisa untuk digunakan menelepon. Tuhan….

Sekitar 30 menit aku menunduk, menyesali kelakuan dan kenekatan bodoh ini. Aku kedinginan, aku letih… Aku ingin kak Riko.

Lampu sorot motor dari arah berlawanan datang menyinariku. Siapa itu? Aku dengan susah payah mengenali sosok dibalik cahaya menyilaukan mata itu. Sejurus kemudian ia menepi dan menghampiriku. Kak Riko!
Aku langsung berdiri dan benar-benar bingung. Aku bahagia, sampai ingin menangis rasanya. 

“Kakak… maaf… gara-gara aku motornya pecah ban…”
Kak Riko tak menjawab, ia tampak menahan sesuatu saat melihatku basah kuyup dan… Ia memelukku. Membenamkan kepalaku did adanya. Hangat. Hangat sekali. Mataku terasa panas sampai akhirnya kupecahkan tangisku dipelukannya.

“Kakak… Danny selalu menyusahkan kakak….” Ujarku sambil terisak.
“Ssssh… sudah sudah.. aku yang salah… sudah…” ujarnya menenangkanku.

Kak Riko mengusap kepala ku lembut. Ia lalu membuka bajunya, dan membuatnya telanjang dada. 
“Pakai bajuku… kamu pasti kedinginan…”
“Tapi kak?” 
“Aku lebih mengkhawatirkan kamu dek… Demi Tuhan, pakailah bajuku, dan biarkan aku memakai bajumu….”

Baju ku nampak begitu sempit saat kak Riko memakainya, ditambah baju itu basah… Kak Riko… 
Aku mengendarai motor yang dibawa oleh kak Riko, sedangkan ia mendorong motor itu sampai sekitar 1.5 km. Sesekali aku menawari untuk bergantian, tetapi ia menolak. Sampai kami berhenti di sebuah tambal ban yang sudah akan tutup. Mungkin bapak itu kasihan melihat kami, sampai ia mau menambalkan ban motor kami.

“Maafin kakak Dan…” ujar kak Riko lirih.
“Aku yang keras kepala kak…” jawabku.

Kak Riko lalu merangkulku, menghangatkan tubuh kami berdua. Sembari menunggu bapak tukang tambal ban itu menyelesaikan tambalannya, kak Riko bercerita tentang perjalanannya kemari. Ternyata itu motor kak Wildan. Ia begitu cemas, dan memaksa untuk menjemputku.. Tetapi kak Riko bersikeras untuk meminjam motornya dan menjemputku. 

Mataku masih sembab. Aku kedinginan, aku letih… Tapi aku berada disini, dipelukan kak Riko.

“Sayang….”
“Hmmm?” Tanya kak Riko.

Tanpa sadar aku mengucapkan kata sayang didepan kak Riko.
“Ngg… Nggak… Sayang kak WIldan ga disini”
“Hmmmh… Yang penting kamu udh selamat dulu, kita berdua khawatir” ujar kak Riko.

Ia semakin menguatkan pelukannya. Membenamkan aku dalam rangkulannya. Kami sudah tak peduli bahwa masih ada 1 orang disekitar kami. Kami tak peduli.

“Mas, ini sudah selesai…” ujar bapak tambal ban itu.
“Oh.. Makasih pak, ini uangnya” 
Perlahan aku menyusuri jalan menuju kost. Menyusuri gelap dan dinginnya malam bersama kak Riko. Ahh… Kak Riko… Sesampainya di kost, kak Wildan berdiri di teras dengan muka khawatir.

“Kamu ga papa Dan?” Tanya nya.
“Hehe… maaf ya kak sudah buat kalian khawatir.”
“Haaatsyyimmm” tiba-tiba aku bersin.
“Kamu sakit tuh! Pasti karena kehujanan tadi…. “ ujar kak WIldan.

Tangan kak wildan menempel di keningku. Tubuhku memang terasa hangat. Aku begitu letih…

“Tuh kan panas… keringkan badanmu, aku ambilkan obat” kata kak Wildan.

Kak Riko menatapku. Ia lalu memelukku. Lagi. Lagi kak… Peluk aku lagi… Aku masih menangis jika aku dipelukan kak Riko. Menangis bahagia. 
“Berikan aku separuhnya Dan… Separuh rasa sakit yang kau terima sekarang” bisiknya di telingaku.

“Andai aku bisa kak… Aku hanya ingin membagi kebahagiaan…” jawabku terbata-bata.

Kak Riko seperti menahan rasa gundah. Ia begitu khawatir.
“Dan… Ini minum obat ini” kata kak Wildan.

Aku lalu meminum obat itu. Merebahkan tubuhku yang telah kering dan hangat di atas kasur. Meresapi apa yang telah aku lewati dengan kak Riko hari ini. Andai.. Andai kami berjodoh, andai… Aku menangis dalam hati… 

Ku pejamkan kedua mataku. Kepalaku semakin lama terasa semakin berat. Aku ingin bermimpi bersama dia, bersama kak Riko. Aku ingin menyampaikan satu kebenaran, bahwa aku begitu mencintainya.

****

Dalam sekejap Danny telah pulas tertidur. Kehujanan dan rasa letih itu membuat tubuhnya memberi sinyal bahwa ia butuh istirahat. Istirahat yang banyak. 

Krek. Pintu terbuka. Seseorang masuk kekamarnya. Riko. Muka Riko terlihat begitu gusar dan khawatir. Ia mendekati Danny yang masih tertidur pulas dan mengusap kepalanya lembut. Ia tidak sadar kalau ia menitikkan air mata kedua sudut matanya. Ia nampak begitu menyesal. 

Riko menggenggam erat tangan Danny.

“Maafkan kakak Dan… Aku ga akan membiarkan kamu sendirian lagi. Aku akan menjagamu. Aku sayang kamu, Dan…. Aku sayang kamu...” Bisiknya.

Sayang, ucapan Riko tadi hanya bisa didengar oleh dirinya. Danny telah jauh bermimpi, dan dalam mimpinya ia mengucapkan hal yang sama untuk Riko.


to be continued....

Love Under The Mistletoe Chapter 7


CHAPTER VII

BECAUSE I LOVE YOU

by Tuktuk




Tiga jam. Sudah tiga jam aku mondar mandir keluar masuk kamar ku menuju ruang depan kost. Selama tiga jam juga sesekali aku duduk di teras kost memperhatikan orang berlalu lalang. Kadang aku membeli penjual gorengan yang lewat depan kost. Sudah sejak pukul 10 pagi tadi aku menunggu kurir pengantar paket menyambangi kost kami. Menunggu kiriman laptop dari Ayah. Setelah aku ceritakan kerusakan laptop itu, Ayah lalu menyuruh untuk mengirimkan laptop rusakku dan ia mengirimkan laptop Abangku yang kebetulan jarang dipake. 

“Dari tadi mondar mandir, kayak setrikaan..” ujar kak Wildan.
“Hehe, iya kak… Aku bosan ga ada gadget beberapa hari ini…”
“Pake punyaku saja, kamarku 24 jam kalo kamu mau pake…”
“Hehe, makasih kak… Ga enaklah mau ganggu…
“Riko mana, Dan?”
“Ga tau… Tadi pagi pergi dia… Ke kampus mungkin?”
“Kamu ga kuliah?”
“Ngg… Nggak… Jadwalnya diganti…”
“Jarang banget kamu kuliah… Harus rajin ya Dek..”
“Iya kak.. I know… Mau gimana dosennya yang cancel hehe”

Kak Wildan tersenyum. Ia tampan jika tersenyum ramah seperti itu. Cewek-cewek pasti bisa langsung jatuh hati melihat dia tersenyum. 

“Dan…”
“Ya kak?”
“Kalo ga ada kerjaan, nanti malam kita nonton yuk?”
“Boleh kak… Aku juga sudah lama ga nonton… Tanya kak Riko juga bisa ga dia?”
“Sama Riko? Hm… Okelah”

Dari air muka nya, kak Wildan terlihat kecewa. Entah aku yang merasa berlebihan, sepertinya ia ingin nonton berdua aja sama aku. Tapi bagaimana bisa kami berdua saja nonton bioskop? Mau sih, cuma kalau ada kak Riko kan lebih asik.

Aku kembali ke kamar dan merebahkan tubuhku di kasur. Ah, waktu itu kak Riko berjanji ingin membuat Mistletoe yang lebih besar untuk kamarku. Bagi kak Riko mungkin itu sekedar basa basi, tapi bagiku… It’s special. 

Tok Tok Tok! Kudengar pintu depan diketok agak keras. Tok! Tok! Tok! Kali ini lebih keras lagi. Ah, apa mungkin itu kurir paket? Tapi kok kurang sopan ya kalau mengetuk keras seperti itu? Siapa itu? Aku bergegas menuju ruang depan. Klek! Aku buka pintu depan dan…
Itu kak Riko! Apa yang terjadi padanya? Kenapa ada luka berdarah disudut bibir kirinya? Kenapa ada memar di pelipis kanannya, kenapa ia tampak lusuh dan berantakan?

“Kak? Kamu ga papa?”
“Errh… Ini… Ini paketmu… Tadi pas aku masuk pekarangan ada kurir paket mengantarkan barang, aku ambilin sekalian…”
“Makasih kak, kamu kenapa?” tanyaku penasaran.

Kak Riko tak menjawab ia sedikit tertatih. Aku segera meletakkan paket diatas meja dan meraih kak Riko. Kuraih tangan kanannya dan kulingkarkan di bahuku. Aku khawatir. Sangat khawatir, apa yang terjadi padamu kak?

Ku bawa ia ke kamarku. Di kamarku ada alat alat untuk mengobati luka-luka kecil. Ibuku perawat di Rumah Sakit, sedikit banyak ia mengajariku cara membersihkan dan merawat luka. Ia juga yang menyuruhku untuk menyediakan Betadine, Kassa, Kapas, dan peralatan kecil lain untuk mengobati luka ringan.
Ku ambil mangkuk besi di dapur dan kuisi dengan air hangat lalu ku bawa menuju kamarku. Ku basahi kapas putih itu dan mulai ku lap perlahan lahan bekas darah yang mengering di bibir kak Riko. 

“Arrgghhh… Aduh… sa…sakit Dan…”
“Iya, tahan sedikit kak… Ini lagi dibersihin lukanya”
“Arghh”

Kak Riko mengerang kesakitan saat aku sapukan kapas basah itu ke luka luka memar dan berdarah di mukanya. Ku oleskan sedikit betadine untuk mencegah infeksi. Perlahan ku perhatikan sekujur tubuhnya, mencari tahu apa masih ada luka yang belum dibersihkan.

“Kamu kenapa kak?”
“…”
“Ya sudah kalau ga mau cerita….”

Aku beranjak membawa mangkuk air kedapur. Tiba-tiba tangan kak Riko meraih tangan kiriku. Aku melihat kearahnya.

“Duduk sini…”
“Kenapa?” tanyaku sambil mendudukkan tubuhku disamping kak Riko. 
“Tadi aku berantem”
“Hufhh…. Kenapa bisa?”
“Salahku sih… Tadi pacar dari mantanku yang menyambangiku saat pulang dari kampus…”
“Kamu ketahuan diam-diam pacaran sama pacarnya?”

Kak Riko mengangguk pelan.

“Sudah kubilang kan? Ya sudahlah… Jadikan pelajaran kak… “ ujarku sambil tersenyum.
“Iya dek…”
“Masih ada yang sakit?”
“Ga ada kayaknya….”
“Kemejamu sobek tuh…”
“Oh iya, wah… “

Sobekannya memanjang di lengan kanan kak Riko. 

“Mau aku jahitkan?”
“Beneran?”
“Iyalah, aku bisa tauk…”
Kak Riko lalu membuka kemejanya dan… Terlihat semua, ia hanya mengenakan singlet putih. Badannya yang berisi terlihat begitu menggoda. Tidaakkk!

“K..Kok bajunya dilepas?” tanyaku gugup.
“Emang bisa dijahit bajunya dipasang?”

Ehhh Danny bego! Jelaslah! Dasar… Karena melihat ia yang hanya mengenakan singlet aku jadi deg degan gini.

“Awas ketusuk jarumnya…”
“Aku bisa kok kak…”
“Oh iya kak, nanti malam Kak Wildan ngajak nonton…”
“Boleh, kebetulan aku lagi bête… jadi pengen ada hiburan…”
“Asik, nanti aku bilangin ke kak Wildan” ujarku sambil terus menjahitkan bajunya.

Sesekali pandangan aku dan kak Riko bertemu. Lalu sama-sama tertawa. Ia mungkin tersenyum aneh, tapi bagiku. Saat pandangan kami bertemu, itu merupakan momen yang bagiku susah dilupakan. Rasanya dada ini menjadi hangat.
“Dan, kamu suka denger lagu instrument?”
“Iya, aku suka Yiruma….”
Ahh, bagiku melihat orang yang bisa memainkan instrument musik itu seperti melihat pemandangan yang begitu indah. Aku denganc epat bisa mengagumi orang yang pandai bermusik. 
“Aku ga bisa main musik, Dan…”
“Ga papa lah kak, yang penting kan kita bisa menikmatinya… Aku suka Yiruma, apalagi albumnya yang First Love… Satu album aku suka” jawabku sambil menjelujur jahitanku.

“Lagu-lagu Yiruma itu romantis kak, bagus dan menenangkan. Aku suka yang River Flows In You… Sama Kiss The Rain…”
Aku seperti mendengar lantunan lagu-lagu itu dikepalaku sekarang. Terlebih saat ini aku memegang baju kak Riko, dan disebelahku? Kak Riko >.< 
“Kamu suka lagu apa saja kak?”
“…..”
“Kak?”
Aku menoleh. Pantas saja tidak ada sahutan atau jawaban. Dia tertidur! Dasar! Jadi, daritadi aku ngomong sendiri? Ih… Ku angkat sedikit kepalanya dan kuselipkan bantal dibawahnya. Ku biarkan ia tertidur pulas, tertidur dengan singlet dan disebelahku! Ahh, kak Riko…

***

Jam sudah menunjukkan pukul 8. Aku sudah bersiap untuk nonton Midnight malam ini. Kak Riko terbangun dan sepertinya ia terkejut mendapati bahwa ia tertidur di kamarku tadi. Aku geli mengingatnya. 

“Dan? Sudah siap?” Tanya kak Wildan.
“Iya kak…”
“Oke, kamu ikut dimotorku ya?”
“O..Oh… Iya kak…”

Yahh, sebenarnya aku mau dibonceng kak Riko malam ini. Tapi ya sudahlah, toh nanti aku bisa nonton bareng dia. Perjalanan menuju mall memakan waktu 25 menit dan cuaca malam ini terasa cukup dingin. Sialnya, aku lupa memakai jaket. Hanya memakai kaos dan jeans. Ahh, Danny yang bodoh…

“Mau film apa Dan?” Tanya kak Wildan.
“Aku terserah sih… Kak Riko mau nonton apa?” tanyaku.
“Hmm, apa ajalah… Filmnya Jason Statham ada ga? Aku kurang update gitu…”
“Kayaknya ga ada nyet, lu jangan minta yang aneh-aneh deh…”
“Sialan, ya udah sekarang terserah Danny aja nonton apa” ujar kak Riko.

Mereka berdua menatapku. Aku seperti diinterogerasi oleh polisi-polisi, persis seperti adegan dimana penjahat ditangkap dan dipelototi.

“Film… Itu saja…” tunjukku. Jari ku mengarah ke poster film yang diperankan oleh Ryan Gosling, “Crazy, Stupid, Love”. Ehh, Danny bego! Lagi-lagi bego! Mana mau kak Riko nonton film begituan??? Kalo kak Wildan sih pasti nurut saja… Kalau kak Riko? -___-

“Film apaan tuh?” jawab kak Riko.
“Heh nyet, tadi katanya terserah Danny, ya udah nonton itu saja ya?”
“Aduh, bisa ketiduran nanti gue di dalem… Dan, kamu yang tanggung ya kalo ada suara dengkuran didalem..”

Aku tertawa. Pada akhirnya kami membeli tiket itu juga, posisi dudukku ditengah. Lagi lagi ditengah mereka ^^. Dari segi cerita film ini lumayanlah, yang aku suka sih liat Ryan Goslingnya itu shirtless dan hampir naked >.<. Begitu di adegan-adegan romantis, aku menoleh kea rah kak Riko. Ia menguap. Aku tersenyum melihatnya.

“Kamu ga bisa ya nonton film romantis gini?” bisikku ke kak Riko.
“Hmmh, bisa sih, Cuma rada bosen…”jawabnya.
“Ini sih ga terlalu romantis, kalo nonton Twilight mungkinkamu muntah kak..” ledekku.
“Hehehe… Tergantung sama siapa sih nontonnya…” balasnya.
“Oh, jadi kalau sama aku ga bisa gitu nonton romantisan?”. 

Ups! Tiba-tiba saja mulutku menjawab seperti itu. Apa-apaan ini! Danny bego… Rasanya aku ini bodoh sekali seharian ini, what the…

“Haha, sama kamu nonton apa aja aku nurut…”

Aku memerah. Whatt???? Ga salah kan? Kak Riko ga lagi mabuk kan? Kak Riko ga anggep aku Laura atau siapapun itu kan? Bener kan itu jawaban buat aku?? 

Aku menoleh ke arah kak Riko. Ia sepertinya menyadari ada yang memperhatikan, lalu ia membalas menolehku. Pandangan kami beradu. Oh God! Aku melting! Ia tersenyum.

“Jadinya mau nonton film, atau mau nonton aku?” jawabnya.
“Hah! Siapa juga yang nontonin kamu…” ujarku sewot.
“Haha, susah kalau sudah terpaksa ganteng…. Maaf ya dek, pesona ku mengalahkan film ini”
“Ge er! Hih…”
“Ssst.. Kalian ngomongin apaan sih?” Ujar kak Wildan tiba-tiba.
“Erhh… Ga ada kak, hehe… sst, lanjut lagi ya kak…” jawabku.

Iya kak, aku mau nonton film, tapi kalau disuruh ngeliatin muka kamu? Lebih lama dari film aku mau. Asal ngeliat kamu. Asal sama kamu. Mataku menatap layar bioskop, scene demi scene berlalu tetapi belum aku mendapatkan kesan mendalam dari film ini, sampai akhirnya Ryan Gosling mengajak seorang pemeran wanita itu berdansa. Dia mengangkat tinggi-tinggi tubuh wanita itu seperti adegan puncak Dirty Dancing yang diperankan oleh Jennifer Grey dan Patrick Swayze. Waaw, so sweet… 

“Kayaknya kamu seneng banget liat adegan gini…” bisik kak Riko.
“Sst, aku mau nonton bagian ini…” jawabku.
“Eh.. orang nanya dijawab… Emang kenapa?”
“Ya aku suka sama adegan dia ngangkat cewe itu! Backsoundnya The Time of My Life… Aku suka lagu itu…”
“Itu lagu jadul… seleramu ga nyangka ya..”ledeknya

Aku mencubit paha kak Riko. Ia menahan sakit, mungkin kalau bukan bioskop dia sudah berteriak. Hihihi. 
Puk. Aku merasakan tangan sebelah kananku ada yang menyentuh. Ku lihat ke sebelah kanan, itu tangan kak Wildan. Ia menempelkan jari jemarinya tepat diatas punggung tangan kananku. Aku bingung. Aku berusaha menarik tanganku, tetapi ia justru menggengam erat tangan kananku. Aku memilih diam. Aku bingung. 

Kak Wildan menggenggam erat tanganku. Tangannya terasa hangat. Setiap kali aku berusaha menarik tanganku, saat itu pula ia menggenggam lebih keras lagi. God, what is happening here? Aku tetap bertahan dengan posisi tangan kananku berada dalam genggaman kak Wildan. Aku tak berani menoleh ke arahnya. Tubuhku lebih condong ke arah kak Riko. Begitu seterusnya sampai ending film itu.

Saat kami berjalan menyusuri parkiran motor, kak Riko melihat ke langit. 
“Kayaknya dingin banget… Nih pake…” ujar kak Riko sambil menyerahkan jaketnya kepadaku.
“A… Aku? Kamu pake apa?” balasku.
“Sini, kamunya dibonceng belakangku, jadi agak hangat gitu…”
Kak Wildan mengernyitkan dahi. 
“Danny kan duduknya sama gue nyet? Ya, gue dong yang boncengin?”
“Gantian dong nyet, gue ga ada temen ngobrol pas pulang. Kalo gue ngantuk trus jatuh?”
“Haha, ya sudah aku dibonceng kak Riko saja ya kak” jawabku.

Kak Wildan tampak kecewa. Hari ini sepertinya aku benar-benar mengecewakannya. 
“Dan, makasih ya…”tiba-tiba kak Wildan berujar.
Aku mengangguk. Hore! Kali ini aku pulang memakai jaket kak Riko, aku suka wangi jaket kak Riko. Sepanjang perjalanan pulang kami terus berbicara, dan tanpa sadar kusandarkan kepalaku di punggung kak Riko. Ia tak merespon. Aku tak peduli, aku tetap saja menempelkan kepalaku.

Begitu sampai di kost, kak Wildan langsung masuk ke kamar tanpa basa-basi. Sepertinya ia sedikit bête. Aku masih memakai jaket kak Riko. Aku tak mau melepasnya. Aku mau tidur pake jaket ini. 
BLAM. Ku tutup pintu kamar. Aku melamun, mengingat kejadian di bioskop tadi. Kenapa kak Wildan menggenggam tanganku? If only he knew, bagiku memegang tangan itu melambangkan perasaan. Itu spesial bagiku. Why?
“Tok… Tok… Dan?” terdengar suara kak Riko.
Ah iya! Pasti dia mau ambil jaketnya! Buru-buru aku melepas jaket itu dan membukakan pintu.
“Ya kak?”
“Sini ikut ke kamarku…”
“Ngapain?”
“Ikut aja…”
Begitu aku sampai di kamar kak Riko, ia langsung memutar backsound adegan di film tadi. The Time of My Life! Ini maksudnya apa?
“Sini, aku bisa lho kayak cowok di film tadi…” kata kak Riko.
“Apanya?”
“Kamu berdiri dari atas kasur, nanti aku yang angkat… Siap?”
Hah? Ini beneran? Kak Riko beneran ngajak aku dansa? Bukan dansa sih, sekedar mengulang adegan film. Adegan film cowok sama cewek! Adegan film romantis!

Aku melangkahkan kaki ke atas kasur. Dan backsound The Time of My Life nya Dirty Dancing di play. Kak riko lalu membuka lebar-lebar kedua tangannya. 
“Siap?”
Aku mengangguk. Aku melompat dari atas kasur dan… Hap… Kak Riko menangkap tubuhku. Kami berdua terlihat bodoh dan konyol saat itu. Saat kak Riko hendak mengangkat tubuhku tinggi-tinggi, pandangan kami bertemu. Tetapi kali ini beda, kak Riko lebih hangat saat menatapku sekarang. 
BRUUUGH.
Kami berdua terjatuh. Aku jatuh tepat diatas tubuh kak Riko dan ia terlihat kesakitan. Lalu kami sama-sama tersenyum.

“Kalo ga bisa bilang dong kak… kan jatuh gini jadinya, kayak anak kecil aja…”
“Emang anak kecil kepikiran mau dansa?”
“Hha, ya sudah ah… aku mau tidur…”

Kak Riko menarik tanganku. Aku menoleh. Tiba-tiba ia tersadar, mungkin ia tak sengaja menarik tanganku, mungkin refleks… Ia terlihat bingung.
“Dan, tidur disini saja… Belum pernah kan kamu tidur di kamarku?”

If this was a movie, pasti musik romantis sudah diputar saat kamera menyorot muka ku yang menahan rasa senang sekaligus malu. Aku mengangguk tanda setuju. Aku tidur disamping kak Riko. Aku tidur di kamar kak Riko! Jelas aku mau, jelas aku mau! It’s because the feeling inside, the love inside of me. Because I love you, kak…


“Karena aku bodoh dan dungu, mataku tak melihat orang lain selain dirimu.Meskipun aku tau kau bersama orang lain, mungkin kau tak pernah sadar perasaanku…
Ada hari-hari dimana aku merindukan senyum mu, ada hari-hari dimana aku menantikan sentuhanmu, Ada hari-hari dimana aku menangis karena mu, dan saat aku tertinggal sendiri saat merindukanmu…
Kata “I love you” menari-nari dibibirku…Aku begitu mencintaimu dan aku menunggumu”

(SS501 – Because I am Stupid – Ost. Boys Before Flowers)




to be continued...

Love Under The Mistletoe Chapter 6

CHAPTER VI

THE FEELINGS



by  Tuktuk


Seandainya saja aku bisa menghentikan waktu, tentulah akan kuhentikan waktu saat ini. Saat dimana selama 4 jam aku tertidur disamping kak Riko. Saat aku bisa memeluk erat lengan kak Riko, menghirup wangi tubuh kak Riko, wangi yang melekat erat di otakku. Wangi yang membuatku merindukannya walau baru saja berlalu satu detik. Andai…
Perlahan aku membuka mata, ku lihat ke sebelah kanan dan kiri ku. Kak Wildan dan kak Riko masih tertidur pulas. Ku tatap lekat-lekat pria yang tertidur disampingku. Biarkan aku menatapnya lebih lama Tuhan, melihat lekuk bibir kemerahannya, menatap tulang pipi yang kokoh dan mata yang terpejam tenang. Pandanganku ku sapu ke seluruh ruangan kamar, mana Laura? Bukankah semalam ia tertidur disebelah kak Riko?

“Psst… Danny!” terdengar suara Laura pelan menyapa dari luar kamar.

Aku menoleh. Ku lihat Laura berdiri dan memberi kode untuk menemuinya. Aku segera beranjak meninggalkan kedua kakakku itu. 

“Ya, mbak?” tanyaku.
“Ini, aku udah beli bubur ayam tadi ke depan. Kamu masuk pagi kan? Buruan, nanti telat…”
“Wah, makasih banyak Mbak… Buat kak Wildan sama Kak Riko?”
“Mereka biar bisa cari sendiri.. Hihii”
“Wah, aku ga enak mbak… Biar ini buat mereka berdua saja… Aku bisa beli sarapan nanti..”
“Jangan… Eh, aku cuma bercanda kok… Punya mereka berdua aku taruh di dapur. Itu makan buburnya…”
“Oh, hehe…Oke, makasih ya mbak…”

Aku melahap bubur ayam itu agak cepat. Karena ku tahu bahwa saat ini aku sedang berkejaran dengan waktu. Walau kost ku dekat dengan kampus, tetap saja aku tidak bisa bersantai karena ini UTS. Sambil melahap suap demi suap bubur ayam itu, ku lihat Laura seperti membuat sesuatu di belakang.

“Nah, Dan… Hari ini kamu ga usah buat kopi dulu! Aku udah buatin soalnya kamu bisa langsung mandi terus berangkat! “
“Waaaah, mbak repot-repot begitu?!”
“Nggak kok, kasian… Kamu capek begadang semalam… Jatah mereka berdua biar aku yang urus”

Aku tersenyum. Segera setelah menyelesaikan semangkuk bubur ayam itu, aku melangkah menuju kamar mandi. Ku basuh badanku yang masih terasa remuk karena begadang. Kucoba untuk tidak melupakan semua momen dimana aku bisa bebas memeluk lengan kak Riko. Menciumi wangi tubuhnya, merasakan hangat tubuhnya. 

Saat aku sudah hampir siap dan beranjak meninggalkan kamar, tiba tiba ku dengar suara dari luar kamar. Suara Laura.

“Danny, aku pulang ya….”
“Oh iya mbak, mau bareng?”
“Boleh… Yuk..”

Aku berjalan menyusul Laura. Ku tutup perlahan pintu depan kost kami. Meninggalkan kedua kakak ku yang masih pulas tertidur di kamarku. Kalau ku perhatikan, Laura memang cantik. Wajarlah, kalau ia bisa dekat dan… bisa sedekat itu dengan kak Riko. She deserved it! Bisa kurasakan seperti ada perasaan sesak saat aku harus tau bahwa ia dan kak Riko terlalu dekat. Aku merasa terasing ketika mengingat hal itu.

“Dan… Menurut kamu, Riko orang yang gimana?” ujar Laura.

Aku berfikir sejenak. Mereka-reka seperti apa sosok kak Riko selama ini.

“Kak Riko itu…Hmm, kak Riko itu orang yang spontan, supel, dan suka menolong, cukup keren sih…” jawabku.

Tidak, aku berbohong! Kak Riko lebih dari itu! Ia orang yang hangat, ia orang yang ramah, ia orang yang melindungi. Ia segala-galanya!

“Masa sih? Kayaknya sama kamu beda banget… Dia itu spontan sih iya, supel, juga iya.. Menolong ? iya sih… Tapi kalau keren? Hhaha kayaknya nggak deh” balas Laura sambil tertawa.

Aku tersenyum. 

“Mbak, kan kenal nya sudah lama… Jadinya bisa tau deh sifat kak Riko… Mbak, aku mau tanya..”
“Eh, Dan… ga usah pake ‘mbak’ lagi… ah.. Tua banget kesannya… Laura aja langsung, oke?”
“Hihi oke deh Laura…”
“Nah, gitu dong. Emang mau tanya apa?”
“Beneran kak Riko itu playboy?”

Laura terdiam sejenak. Sambil menatap lurus kedepan jalan ia menjawab…
“Mungkin itu satu hal yang membuat dia manusia. Manusia yang memiliki kekurangan, seperti manusia lain…”
“Oh, wajarlah… Orang kayak dia pasti banyak yang suka…”
“Nggak wajar sih menurutku, Dan… Kalo ganteng terus sah punya banyak pacar? Kalo ganteng bisa dapet perlakuan sosial yang istimewa? Nggak. Mungkin itu kekurangan dia, kalau kulihat dia seperti mencari sesuatu, selama ia belum menemukannya… Ia tetap seperti itu”

Aku tertegun. Sepertinya perkataan Laura barusan benar-benar melekat di otak ku. Benar juga, lantas apa yang kamu cari, Kak? Don’t you know I am here? Don’t you know I love you? Ah.. ku tepis untuk kesekian kalinya mimpi ku untuk berdiri disamping kak Riko. Berdiri sebagai seseorang yang ia cintai. Mimpi.
Drrt. HP ku bergetar. Kulihat notifikasi SMS.

“FROM : Kak Wildan
“DEK, SUDAH BERANGKAT YA? HATI-HATI DIJALAN YA. SEMANGAT BUAT KULIAHNYA! HUGS.”

Aku tersenyum membacanya. Andai yang mengirim SMS ini kak Riko. Mungkin aku segera pulang dan memeluknya erat-erat. Eh, apa aku berani? Cuma berkhayal sih.

“Dan, aku duluan ya. Dari sini aku tinggal berapa blok lagi… Kamu semangat ya buat UTS sama ngumpul tugasnya…”
“Laura… makasih banyak ya…”
Laura mengangguk sambil tersenyum. Kuteruskan langkahku dengan perasaan ringan dan masih seperti anak kecil yang baru diberi mainan. Tersenyum sendiri. Tersenyum sepanjang jalan. Tersenyum membayangkan kak Riko.

***

Percakapan dengan Laura tadi pagi membuatku semakin sadar. Aku belum mengetahui seluk beluk kak Riko. Ah, sudahlah… Ku langkahkan kakiku memasuki pekarangan kost. Kuraih gagang pintu dan klek… Terkunci. 
Tok… Tok Tok… Ku ketuk perlahan. Kulihat dari kaca jendela depan, kak Riko datang menghampiri. Kak Riko cuma pake handuk! 
“Eh, sudah pulang?” tanyanya.
“Iya, ka.. kamu abis ngapain kak?”
“Mandi lah… Ini mau ganti baju, mau ikut?”
“Weeek… Siapa juga yang mau ikut”

Aku meletakkan tas dan buku di kamar sambil terus melirik kak Riko melangkah masuk ke kamar. Mau ikut ganti baju? Ya mau lah! Melihat tubuh atletis kak Riko. Sekali lagi kalau aku mengingatnya, ahhh rasanya muka ku bersemu kemerahan. Dadanya yang bidang dihiasi puting susu kecoklatan. Lengan yang besar dan perut yang rata. Argghh…

“Dan?” tiba-tiba kak Riko menegur. Membuyarkan seluruh lamunanku.
“Ya kak?”
Ku lihat ia memasuki kamarku dan berbaring diatas kasurku. Aku duduk disamping kak Riko.
“Hmmhh..” kak Riko menghela nafas panjang.
“Oh iya, tadi pagi bukan kamu yang buat kopi ya?” Tanya kak Riko.
“Eh.. kok tau?”
“Ya tau lah. Bisa dibedain, rasanya… “
“Laura kak yang buat, aku disuruh buru-buru mandi tadi”
Kak Riko tersenyum. Ahh, kenapa harus membicarakan Laura saat kami tengah berdua? Hufhh…

“Dan, aku lagi suntuk… Skripsiku belum diterima-terima juga… Kayaknya aku mau buat robot aja deh…”
“Wah, kamu sudah ajukan lagi? Kamu mau buat robot apa kak?”
“Belum tau juga, robot sederhana aja, kayak kakak tingkatku dulu… “

Aku terus mendengarkan cerita kak Riko. Banyak istilah anak teknik yang aku tak mengerti. Komponen-komponen seperti PCB dan lain sebagainya yang masih asing ditelingaku. Kalau bukan kak Riko, pasti cerita ini tidak akan menarik. Tapi aku suka mendengarnya. Aku tak punya alasan untuk tidak menyukai suara kak Riko. Untuk apapun yang ia ceritakan, apapun yang ia katakan. Semuanya menarik bagiku.
“Dan, ikut aku yuk…”
“Kemana?”
“Hari ini tanding futsal, kamu mau main?”
“Nggak kak… ehhee aku nonton kamu saja ya”
“Iya dehh, pake motorku saja ya”
“Oke, aku siap-siap ya”

Untuk kali pertama, aku dibonceng naik motor kak Riko. Rasanya aku belum pernah sedekat ini, kurapatkan tubuhku ke punggung kak Riko. Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya bahwa aku bahagia! Sesampainya di Sport Center, kulihat Laura sudah lebih dulu duduk. 

“Eh, ada Danny! Kamu main juga?”
“Nggak laura, hehe… ga mahir aku”
“Tau nih, si Danny…”
“Hehe, sana main!”

Melihat kak Riko begitu bersemangat mengejar bola dilapangan membuatku semakin terpana. Ia berteriak, ia tertawa, ia bahagia. Sesekali ia menoleh ke arah aku dan Laura, ia tersenyum. Ohhhh aku melting. Sampai akhirnya 1 jam berlalu, dan ia setengah berlari dengan peluh membasahi seluruh tubuhnya. 
“Nih” tiba-tiba secara serentak aku dan Laura menawarkan minuman. Aku malu! Oh, seorang Danny menawarkan minuman ke Riko? Jelas,ada Laura disitu. Bego! Pasti kak Riko memilih Laura! Aku langsung meneguk botol air mineral itu untuk menghilangkan rasa gengsi.

“Sini!” tiba-tiba kak Riko menyerobot botol minumku.
Aku melongo. Itu botol minumku. Bekas bibirku. Kini di minum kak Riko. Berbekas kak Riko? Kak Riko memilih botol minumanku? Ga salah?
“Bawa handuk ga?” Tanya kak Riko sambil sedikit tersengal.
Aku menggeleng.
“Nih, aku dah siapin” jawab Laura.

Kak Riko langsung meraihnya dan mengambil handuk kecil itu. Perlahan ia mengelap peluh yang membanjiri tubuhnya. Bagiku ia seksi saat itu. 

“Dan, langsung pulang yuk… Aku gerah”
“Laura gimana?”
“Aku masih sama temen Dan, tadi udh bilang juga ke Riko…hehe”
“Oh, oke aku nurut aja”

Yay! Satu motor sama kak Riko lagi! Ku tempelkan badanku dipunggung kak Riko yang terasa hangat. Menciumi aroma tubuh kak Riko yang semakin membuatku menggilainya. Kujatuhkan daguku di bahu kak Riko. Aku tak peduli. Aku benar-benar menyukainya. Menyukai semuanya tentang kak Riko.

Begitu sampai di rumah, aku segera melangkah masuk ke kamar. 
“Dan….” Suara kak Riko memanggil dari belakang.

Aku menoleh.

“Dan, apapun yang kamu dengar tentang kakak… Ada banyak hal dan begitu banyak hal yang sangat kompleks yang membuat kakak seperti itu.”
“Maksudnya kak?”
“Ya… Soal kakak dibilang playboy…”
Aku mengernyitkan dahi. Darimana ia tau kalau aku bertanya soal hal itu?
“Aku tau kok, pasti kamu ilfeel ya sama aku…”
“Nggak kak… bukan gitu… Bukan alasan dan aku ga segampang itu membenci orang…”
“Ya, entahlah Dan. Aku juga mulai jenuh seperti itu”
“Then stop it kak, Kamu Cuma menyiksa diri kamu seperti itu…”
“I know… Aku Cuma cari rasa nyaman. Rasa dimana aku dibutuhkan, dan dia membutuhkan. Timbal balik…”
“Pasti ketemu kak, tapi mungkin tidak dengan pencarian yang berlebih, yakinlah, aka nada orang yang mencintaimu seperti kamu mencintainya…”

Kak Riko tersenyum. Iya kak! Itu aku! Orangnya didepan kamu! Batinku…

“Dan, kakak mungkin bukan contoh yang baik, kakak juga bukan siapa-siapa. Kakak harap kamu masih percaya kakak, karena kakak masih ingin menjadi lebih baik.”
“Aku percaya. Kamu juga dong! Harus berubah, harus lebih baik!”
“Pasti… “
Aku tersenyum. Andai kau bisa menyadarinya kak… Andai… Aku melangkah menuju kamar….

“Dan… “
Aku menatap kak Riko.
“Gantungan mistletoe di kamar kamu… Nanti kita buat yang lebih besar ya…”
Aku mengangguk.
Tuhan, mata ku panas. Aku benar-benar menyukainya. Aku benar-benar tak bisa mengingkarinya. Andai aku bisa menyatakannya, andai aku bisa mengutarakannya. Andai aku bisa tau perasaan dia kepadaku…


“Loving you it hurt sometimes
i'm standing here you just don't bye
i'm always there you just don't feel
or you just don't wanna feel
don't wanna be hurt that way
it doesn't mean i'm givin' up
i wanna give you more
and more and more'”
(D’Cinnamons – Loving You)




to be continued...


Jumat, 25 Juni 1999

LOVE UNDER THE MISTLETOE CHAPTER 5


CHAPTER V

THE MISTLETOE LEAVES



by Tuktuk


Waktu terasa berjalan begitu cepat disini. Rasanya lebih cepat dari pesawat jet sekalipun. Dalam satu hari, tanpa terasa kita melewati siang yang berganti sore lalu diakhiri oleh malam. Sudah 2 hari belakangan ini aku dikejar deadline, apalagi kalau bukan tugas. Tugas ini tugas tengah semester. Aku diharuskan menuliskan semacam tulisan ilmiah yang tersusun dari beberapa bab, persis skripsi! Kadang, ditengah kesuntukanku mengerjakan tugas ini aku seringkali mencuri-curi waktu untuk sekedar online.



Segera aku hubungkan laptopku dengan koneksi internet dari modem usb itu. Click! Oke, Aku online sekarang. So, what’s next, Danny? Hmmm, begitu kita mulai berinternet ria, begitu pula kita seringkali melupakan tujuan awal kita untuk berselancar.



Ahh, E-mail! Cek email terlebih dahulu deh… Ku scroll mouse ku ke atas dan ke bawah. Oke, sepertinya tidak ada email masuk dari teman ataupun keluarga, hanya notifikasi dari facebook dan… Weekly Horoscope! Yay! Aku dulu selalu membaca ramalan dari situs ini, sekarang karena kesibukan kuliah aku jadi jarang memperhatikan ramalan ini.



Rasa senang ketika menerima e-mail dari Weekly Horoscope itu sama senangnya ketika menerima telepon dari Ayah atau Ibu. Aku mungkin terdengar kolot atau bodoh, tapi aku suka mendengar ataupun membaca hal-hal yang berbau legenda seperti ini. Karena aku orang yang suka dengan kejutan, jadi aku berharap akan terjadi banyak keajaiban jika aku mempercayai hal-hal seperti ini. 



Ku buka e-mail dari Weekly Horoscope dengan penuh rasa penasaran. 



“HOROSKOP MINGGUAN : MINGGU INI AKAN ADA BANYAK KEJUTAN DAN KESEMPATAN DENGAN DIA YANG ANDA IDAM-IDAMKAN. BERFIKIRLAH MATANG-MATANG SEBELUM BERTINDAK. WARNA KEBERUNTUNGAN : HIJAU”



Apa maksudnya ini ya? Kesempatan dan kejutan? Apa berhubungan dengan Kak Riko? Kalau benar, lucky me! Untuk warna keberuntungan… Kira-kira apa ya? Aku ga punya benda warna hijau sih. Ada tapi apa ya? 



Tok Tok! Ku dengar pintu kamarku diketok dari luar.

“Dan… Danny?” suara kak Wildan memanggil.

“ Ya kak? Ada apa kak? Masuk aja kak” jawabku.


Krek, ku dengar bunyi pintu kamarku dibuka, ku lihat kea rah pintu kak Wildan masuk dan menghampiriku.



“Kamu ngapain sih 2 hari ini? Tiap pulang ngampus selalu masuk kamar ga keluar-keluar?”

“Tugas kak…Hufh…” jawabku sambil menghela nafas panjang.

“Banyak ya? Butuh bantuan?”
“Iya, udah kayak skripsi… Tapi aku bisa kok kak, don’t worry!” jawabku enteng.
“Yeee, bisa sih bisa kamu tuh dari pagi udah ga keluar-keluar kamar… Emangnya libur?”
“Iya libur, kak… Ini minggu UTS… Hari ujiannya berselang seling… Sekalian aja aku kerjain tugas”
“Good, sekarang istirahat dulu! Udah jam makan siang ini…Yuk!”
“Duluan aja kak… Aku nyusul nanti…”
“Oke, kakak siapin dulu ya kebetulan kakak beliin sayur nangka kesukaanmu”
“Makasih kak”



Kak Wildan beranjak meninggalkan kamarku. Entah kenapa, ada sesuatu yang aku rasakan dari kak Wildan. Rasanya berbeda dengan yang aku rasakan dengan kak Riko. Perasaan yang aku rasa ke kak Riko lebih dikuasai oleh rasa sayang dan takut kehilangan. Sedangkan perasaan ke kak Wildan adalah rasa hangat dan nyaman. Nyaman sekali. 

Tapi kalau ke kak Riko berbeda. Rasa sayang, rasa suka, rasa kagum, semuanya ada. Begitu melihat kak Riko, mata ini terasa hangat, dada ini seperti penuh dengan oksigen, aku tak mampu berkata-kata dan salah tingkah. Cinta. 



Ahh, sudahlah… Semakin aku memikirkan kak Riko, ada jutaan ide muncul di otakku. Membayangkan kami menghabiskan waktu berdua, menikmati makan malam berdua, semuanya! Termasuk yang… Ahh! Pikiranku mulai nakal. Ku alihkan kursor mouse dan mulai mengetik alamat situs xxx. Hahaha! Namanya manusia, boleh dong sekali-sekali!



Situs xxx itu terbuka, oke… Sekarang aku bisa bebas melihat sekaligus cuci mata. Mulai ku pilih-pilih video mana yang akan aku lihat. Keinginanku untuk menulis tugas sudah ditekan jauh kebawah oleh foto-foto dan video dari situs ini. 



Krek, tiba-tiba pintu kamar ku dibuka dari luar. Aku terperanjat. Aku lemas. Aku menoleh dengan ekspresi gugup. Itu Kak Riko!



“Hei, Dan! Ayo makan! Daritadi ditungguin!”



Dengan cepat ku tutup situs itu… Entah kak Riko sempat melihat atau tidak.



“Ka… Kakak duluan saja.. Aku… A..Aku masih…”

“Jiah, gugup gitu… Lagi nonton bokep ya?”

“Ehhh enak aja…!”
“Hiyaa, merah mukanya! Ayooo nonton bokep siapa? Liat dongg!”
“Nggak mauuuu”



Aku segera menutup laptopku.



“Hei! Lain kali kalo nonton bokep bareng dong!”



Hah? Bareng? Aku sih mau saja! Emang kak Riko mau nonton bokep gay? Batinku..



“Ogah! Siapa juga yang buka bokep”

“Haaa bohong dia… Tadi aja keliatan gugup”

“Haaaaahhhh sudah ah, yok makan!”


Sepertinya aku harus memikirikan benda berwarna hijau supaya aku lebih beruntung. Benar juga kata ramalan itu, kali ini lebih hati-hati.

***



Kepergok tadi siang benar-benar membuatku trauma. Entah, apakah kak Riko sudah sempat melihat apa yang kutonton sebelum jemariku dengan cepat berusaha menutupnya. Tetapi aku harus konsentrasi! Besok pagi, adalah hari pengumpulan tugas ini. I can’t let it down…



Oh iya, untuk ramalan itu… Bagaimana kalau aku buat saja sesuatu berwarna hijau? Daun Mistletoe! Legenda tentang daun ini memberikan banyak harapan. Cinta, kesenangan, kebahagiaan dan aku percaya itu. Mulailah aku menggunting kertas timah yang berwarna hijau itu dengan motif daun mistletoe yang aku rekatkan satu sama lain. Persis seperti gantungan saat Natal. Hiasan mistletoe ini tidaklah besar, diameternya aku buat 20 cm. Ku beri tali dan kugantung disebelah lemari pakaianku. Semoga ia benar-benar membawa keajaiban! Hihihi.. Sekarang saatnya fokus kembali ke tugas kuliah!



Ding! Tiba-tiba ada notifikasi chat dari Facebook. Aku buka tab facebook itu. Kulihat chat dari teman SMA ku dulu. Ku buka dan isinya hanya symbol tertawa dengan sebuah link. Link apa itu? Sepertinya spammer sih. Biasanya kalau spammer suka kasih virus. Tapi aku penasaran juga. Ku klik notifikasi itu dan...



BLEP. Laptopku mati. Aku melongo. Ku tekan tombol on, ia tidak mau menyala. Ku tekan lagi tombol itu ia juga masih tak mau menyala. Ku tekan lagi sampai akhirnya aku terdiam. Laptop itu mendadak MATI TOTAL ! SHIT! 



Aaaarrrghhhhhh, kepalaku pusing. Rasanya sesak dada ini. Apa yang bisa ku lakukan? Besok tugas ini harus sudah jadi dan sekarang laptop ini mati total. Aku tak punya back up di flashdisk maupun hardisk eksternal, apalagi sempat menguploadnya…



Tidaaaaakkk! Rasanya aku ingin berteriak sejadi-jadinya. Ku tutup kedua muka ku dengan telapak tangan sambil menekuk kakiku. Aku menangis. Aku bingung. Rasa sakit dan capek selama 3 hari ini sia-sia karena laptop ini mati total.



“Dan.. yok kita makan..Loh.. kamu kenapa?” Tiba-tiba kak Wildan masuk ke kamar dan menyapaku.

Aku tak menjawab.

“Dan.. Kamu nangis?”
Aku masih tak menjawab.
“Dan?” Kak Wildan memegang kedua tanganku dan menyingkap air muka ku yang penuh dengan rasa takut.
“Kenapa?”
“Tugasku kak…”
Kak Wildan menoleh melihat laptopku yang mematung. Ia mengotak-atik laptop itu. Dicobanya beberapa kali menghidupkan laptop itu namun hasilnya juga nihil.



“Wah, kapan dikumpulnya?”

“Besok kak…” jawabku lirih.

“Ya sudah Dek, sekarang kita kerjain lagi… Kakak bantu ketik nanti si Riko juga”
“Eh ngapain pake nyebut nama gue?” Tiba-tiba kak Riko berdiri di depan pintu.
“Udah nyet, jangan bikin orang kesel… Tugasnya Danny besok dikumpul, sekarang laptopnya mati total”
“Hah! Beneran?”
Aku mengangguk.
“Jadi? Gimana ini?” Tanya kak Riko.
“Ya kita begadang aja, kasian Danny. Bisa ga lo?”
“Bisa… Eh tunggu, gue sms Laura aja ya siapa tau dia bisa bantu”



Aku terdiam. Jujur aku suka ketika mereka berdua mau membantuku mengerjakan semua dari awal. Tapi untuk apa kak Riko mengajak Laura? Aku tau harusnya aku berterima kasih karena mereka mau membantu, tapi aku rasa aku kan cemburu jika melihat Laura dan kak Riko… Ah.. sudahlah, tugas dulu!



“Oke Dan? Siap?” ujar kak Wildan

Aku mengangguk pelan.

“Ehhh cemberut amat sih…” tiba-tiba tangan kak Riko meraih dagu ku dan membuat kepalaku menoleh untuk melihatnya.
“Senyum nih kayak gini … Hiiiii” Tiba-tiba kak Riko menyunggingkan senyum paling lebar dan paling manis yang pernah aku lihat.
Aku tertawa kecil. Suasana mencair. Aku bahagia bersama mereka.



Kak Wildan, Kak Riko dan Aku mulai bergegas mengetik, menulis dan mereview bab demi bab. Kak Wildan mengerjakan bab I, kak Riko Bab II, aku Bab III, IV dan V. Nanti setelah masing-masing selesai baru digabung dan diedit bersama-sama. 



“Eh, si Laura udh nyampe nih… Bentar ya” jawab kak RIko.



Aku menoleh melihatnya berlalu. Berselang beberapa saat kemudian, Laura sudah berdiri di depan kami. Ia mengenakan hot pants dan kaos berwarna putih. 



“Haloooooo! Hai Wildan, tambah ganteng aja!” sapa Laura ramah.

“Eh Laura, tumben jarang dateng?”

“Iya nih, lagi skripsian… hehe Halo Danny! Si Riko sering nyeritain lhoo tentang kamu..”
“Eh, cerita apa?”
“Ga kok… Yang bagus bagus aja… hihi… Oke aku bawa makanan nih, pasti kalian laper…”



Kak Riko sering cerita tentang aku di depan Laura? Aku kenal aja baru sama dia. Ngapain kak Riko cerita tentang aku? 



“Dan, makan dulu… Biar nanti dilanjut lagi” ajak kak Riko.

“Tanggung kak, abis ini ke Bab IV…”

“Ya udah sini, aku suapin kalian tetep nulis yaaa” ujar Laura.


Aku bingung. Pada akhirnya, Laura lah yang menyuapi kami bertiga. Dari kak Riko, ke Aku dan ke kak Wildan. I love this moments. Ramalan itu sepertinya mulai benar. Tapi dengan cara yang aneh.



Kami berempat berkutat di kamarku yang sempit itu selama beberapa jam, rasanya semua lebih cepat karena aku memberitahu apa-apa yang harus mereka ketik. Kami mengerjakan dengan 3 laptop, punya kak Wildan, dan 2 punya kak Riko, sebenarnya itu punya teman kak Riko. Ia meminjam dari temannya untuk kondisi darurat katanya… Ah kak Riko.. 



“OKE! FINISHH! Arrrghhhh!” teriak kak Riko.



Aku tersenyum bahagia. Ku lihat mata kak Wildan yang sudah menahan kantuk berat. Sedangkan Laura sudah sejam yang lalu tertidur pulas disamping kak Riko. 



“Print sekarang?” Tanya kak Riko.

“Iya…”

“Eh kak…Riko dan kak WIldan” ujarku lagi.
“Ya?” jawab mereka serempak.
“Makasih…” ujarku lirih.



Mereka tersenyum satu sama lain. Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Dan tugas itu selesai sampai ke kesimpulan. Aku tersenyum puas. It’s a miracle. Kusandarkan badanku kelantai, tepat disamping kananku kak Riko yang berbaring dan di samping kiri ku kak Wildan yang mulai terpejam. Aku berbaring diantara mereka. Aku setengah berbalik menghadap kak Riko dan merapatkan tubuhku. Ku rasakan hangatnya lengan kak Riko dan semakin ku dekatkan diriku sampai menempel satu sama lain. Lalu mataku menatap mistletoe yang kugantung itu. Apa ini ada hubungannya?




"Andai dibutuhkan keajaiban untuk membuatmu mencintaiku... Akan kubuat keajaiban itu...Tak dicintai pun aku tak apa... Asalkan keajaiban itu bisa menjagamu didekatku, paling tidak waktu mengizinkan untuk kamu dan aku. Hanya kamu dan aku"




to be continued...